Dan pada akhirnya aku kembali ke rumah.

Aku bersihkan bilik kesayanganku dan menemukan beberapa pesan yang tertinggal di kotak surat. Ternyata ada juga yang menghabiskan waktu percuma untukku. Ada yang berharap aku datang dengan oleh-oleh cerita jenaka, cerita membanggakan, cerita bahagia, cerita kegalauan, cerita pandir atau sekadar nyinyir. Jujur, banyak hal yang tidak bisa aku penuhi. Banyak kisah yang belum sempat aku ceritakan di sini. Terbangun dari ‘hiatus’ yang cukup panjang di pagi ini, aku malu muncul sebagai penghuni yang lalai pada janji.

Aku paham,

Cerita yang aku tulis dengan penuh emosi dan isak tangis tak kunjung muncul di rumah ini.  Tempatku menikmati ketersesatan. Tersesat dalam ribuan kata dan ratusan diksi atau sekadar terima kasih. Di rumah ini aku merasa nyaman, bercerita dengan sederhana dan meneduhkan diri. Bersandar, menjernihkan kepala sejenak dan berpikir matang. Apa yang sudah dan akan ada di sini adalah sebuah lingkar yang masih bisa ku baca dikemudian hari, dengan kaca mata yang berbeda sebagai penghuni yang lebih lapang dada.

Aku tahu,

Mungkin pernah ada yang menungguku disini. Dia yang asyik membaca buku di sudut bilik, yang sesekali mendongakan kepalanya dari jendela. Mengintip dari sebuah ruangan sembari menyeruput teh hangat tawar. Ketika malam datang dia hanyut dalam gelap. Seketika itu pula aku tahu dia telah terlelap. Kini aku pulang, dalam keadaan tercabik dan putus asa. Dalam raga yang setengah mati rasa.

Ini adalah sebuah terminasi.

(New Jersey, Akhir Januari)

Advertisements