Tags

, ,

Segar! baru saja usai mandi dan keramas tengah malam. Bukan rangkaian ritual bukan juga terapi rajin mandi, peluh yang mengering dan debu yang mengendap tak sepenat pikiranku menjelajah RS Thamrin sejak sore tadi. Musibah itu datang menghampiri, tak terduga namun sebenarnya bisa kami cegah. “Lagi sial!” katanya singkat sambil meringgis menahan sakit. Dia Silvia Landa, sahabat sekaligus saudaraku asli dari Sumba. Sore tadi dia celaka.

Aku dan Silvi "Kami Gadis Nusa"

Usai mendapatkan email mengenai perkembangan pendaftaran universitasku di Amerika kepalaku sedikit pening. Ku raih komputer jinjingku, lalu ku coba menghubungkan dengan layanan berbagi internet dari selularku. LEMOT! hampir saja ku tutup dengan kasar ‘laptop mahal’ yang kucicil dengan keringat darah *ah ini berlebihan kawan, tapi aku memang benar sangat kesal hari ini padanya*.

Dari kamar sebelah, seorang kawan masuk ke kamarku sambil membawa laptopnya, “Pakai saja ini biar kamu bisa balas email dan mencari apa yang kamu perlukan untuk Uni mu”.

Aku mengangguk tak menolak tawarannya. Kamipun berbincang sambil sesekali tertawa menunjuk-nunjuk peta Amerika.

“Sil, nanti sore main ke Menteng yuk. Ada taman dengan rumah kaca dan beberapa spot menarik buat foto. Kamu pasti belum pernah kesana kan?” “Emm..boleh juga Doi, jam berapa? ini sudah jam 5 jika kita tak bergegas malam sudah sebentar lagi”. Aku melirik jam di meja, ” Baiklah, give me five minutes I’ll ready to go!” kataku sambil mengerlingkan mata.

Berselang beberapa menit aku gedor kamarnya yang tepat berada disebelahku ” Silvi, udah siap belum? aku udah nih” “Sudah Doi, saya masih sisir rambut ini” Silvi keluar kamar sambil mengelus rambutnya yang basah. “Yah kamu mandi? kita kan mau jalan santai sambil cari keringat” “asudah sudah saya sudah terlanjur mandi, nanti saya temani kau saja ya” Kami tertawa bersama hingga ujung gang Salemba.

Kami memilih untuk naik taksi menuju ke Taman Menteng. Misi kami kali ini adalah untuk foto-foto, olahraga ringan, dan mungkin sesudahnya akan menghabiskan malam di Atrium. Silvi sudah survey ke teman-teman untuk minta referensi film yang akan kami tonton. Dia juga berniat untuk membeli beberapa hadiah natal untuk saudaranya. Oiya, tadi sore sewaktu akan membayar taksi uang kami tidak cukup, HAHAHA. Aku hanya membawa uang tunai sebesar Rp 20.000 dan Debit BCA, dan ternyata biaya taksi yang harus kami bayar adalah Rp 21.300. Setelah mengorek lebih dalam tas NTT ku, aku hanya mendapat Rp 200 lagi lalu kuberikan pada sopir sambil nyengir. Untung sopir taksinya baik, kalau tidak dia pasti akan berlalu sambil ngedumel seperti beberapa waktu lalu saat aku membayar taksi dengan uang ribuan padahal toh jumlahnya juga sama. ah Jakarta!.

Di taman Menteng kami segera melakukan ritual foto-foto. Tentu saja dengan berbagai gaya dan ekspresi sembari berkeliling satu putaran taman.

WP_002434

Banyak aktivitas yang bisa dilakukan di taman asri ini, ada yang sibuk memotret model-model syur dekat air mancur, ada yang pacaran saling belai di kursi taman atau gaya cari kutu ala monyet, ada pedagang minuman bersepeda kesana-kemari, ada banyak pula yang berolah raga seperti basket atau skateboard. Silvi nyeletuk ” Duh kalau pinjam itu papan buat main skateboard, nanti kita punya lutut siku luka-luka kalau jatuh. Apa dikata kalau Bu Wiwik (rekan kos dari Papua) lihat kondisi kita nanti ya?” Kami tertawa membayangkannya hingga sampai di areal depan, dan kemudian Silvi minta berhenti sementara aku melanjutkan satu putaran lagi.

WP_002425

 

WP_002453

Pukul tujuh kami sepakat untuk naik kopaja menuju Senen. Silvi bilang kopaja ramai melintas sejak tadi. Beberapa waktu menunggu, kamipun berhasil naik ke Kopaja AC dengan biaya (jauh-dekat) Rp 5000/orang. Sepanjang perjalanan kami mengobrol merencanakan acara tahun baru yang akan kami rayakan bersama teman-teman. Ia juga bercerita tentang rencana perayaan Natal tahun ini. Waktu terasa cepat dan terminal Senen sudah di depan mata. Bukan kopaja namanya kalau tidak berhasil bikin jengkel, aku pernah menulis ‘kehebohanku saat naik kopaja’ dengan mantra turun kaki kiri naik kaki kanan selalu terngiang di telingaku. Hap! aku berhasil mendarat saat kopaja memperlambat lajunya untuk menurunkan penumpang. Tapi temanku Silvi kurang cepat sehingga belum bisa ikut lompat, dia pun harus ikut masuk ke dalam terminal. Kami terpisah.

Beberapa menit aku menunggunya tapi tak kunjung datang juga. Akhirnya aku telpon dia. Dua kali teleponku tidak diangkat. Aku curiga ada yang tidak beres. Dalam bayanganku Silvi kecopetan di terminal atau dia tetap lanjut pulang ke rumah kost. Tapi ketika menelepon ketiga kalinya akhirnya diangkat juga. Aku tanya dia dimana, dia hanya jawab ada di warung biru. Aku berikan banyak pertanyaan tapi dia seperti bingung menjawabnya. Akhirnya kusuruh dia baca tulisan apapun di sekitarnya, Dia menyebutkan sebuah nama warung dan akupun bisa menemukan warung itu. Tapi tidak bersama Silvi, dia ternyata ada di toko ketiga setelahnya. Tampak seorang ibu sedang mengurut tangannya. Muka Silvi pucat tangan kirinya mengangangkat perlahan gelas dan meminum tehnya. “Dia terjungkal dari kopaja, tadi langsung saya panggil karena tangannya berdarah untung tidak ada bus yang lewat. Jika tidak tamat sudah riwayatnya!” Aku tertegun mendengar penjelasan ibu pemilik warung biru itu. Ku pandang Silvi dan ku pegang tangannya. Ia mengeluh nyeri dan kamipun bergegas menuju rumah sakit terdekat.

Pasca penanganan di UGD RS Thamrin, Salemba

Dokter mengatakan lukanya harus dijahit 2 atau 3 jahitan karena menganga dan darah mengucur terus. Setelah menandatangani surat persetujuan tindakan, Silvi segera ditangani. Untuk nyeri di bahunya kami sepakat untuk melakukan rontgen. Biayanya cukup mahal hampir Rp 400.000 tapi kami tetap memilih untuk rontgen agar bisa menghindari situasi yang lebih buruk di kemudian hari. Dalam keadaan sakitpun Silvi masih bisa bercanda,” Ahh..saya sudah sering dapat luka Doi. Dulu pernah digigit anjing tapi tak terasa” katanya tersenyum kecut menahan sakit. Aku hanya mengangguk, mencoba tampil setenang mungkin dihadapannya. Padahal trauma ku terhadap UGD semenjak 4 tahun lalu sungguh masih tersisa dan terkadang nyeri di dada. Tapi kali ini aku harus kuat, agar Silvi juga kuat. Sewaktu dijahit ku pegang tangannya, dingin. Dia meringgis tapi tetap berusaha tak menangis. Aku tahu kehidupan telah menempanya menjadi perempuan yang perkasa. Bahwa hidup dulu di Sumba dan nanti di Amerika tak boleh jadi lemah tak berdaya, apalagi kini di Jakarta. Aku merasakan kesakitannya menglir lewat tanganku. Dalam diri ku yang bertahan dalam ruang genting bersimbah darah dan penuh tangisan perih bercampur amarah.

Setelah menunggu hampir 2 jam akhirnya hasil rontgen menyatakan bahwa bahu Silvi baik-baik saja. Kami lega. Ku dengar ia berbisik pada dirinya sendiri “Sampai rumah aku kasi kau obat China!” Seperti menyadari ‘kenekatan’ pasiennya Dokterpun berkata pada saya, ” Kontrol kesini tiga hari lagi, luka jangan kena air, bahu jangan di urut, dan oleskan salep yang akan saya resepkan jika bahu tetap nyeri” Aku tangkap Silvi jengkel dengan informasi itu, hahaha dia lalu ngeloyor ke depan duduk menunggu ku yang naik ke lantai dua untuk bayar dan nebus obat. Ah…si gadis Sumba Jenaka ini memang hebat! tak gentar saat kulitnya yang alot dijarit, tak takut saat suntik tetanus menembus kulitnya yang eksotis. Satu hal yang membuatku terpingkal hingga kini, saat dia mengirim SMS kepadaku sesaat setelah masuk ruang UGD, tentang gengsi dan nama baik ” Bilang kita jatuh disenggol motor saja okey! malu, hehehe”

Keceriaan dan jenaka yang ia beri tak hanya itu saja suatu saat aku akan bagi lagi kisah tentang Silvia Landa, gadis Sumba yang  ku jumpai saat seleksi wawancara di Kupang dulu. Gadis sederhana dengan masa depan yang luar biasa. Tunggu kisah ‘Belis nikah Kuda Kerbau’ serta Cerita menarik lainnya tentang kecintaanya terhadap Pulau Sumba dan Indonesia.

WP_002279

Advertisements