Tags

, ,

“Hah?! Dapat info darimana? Aku aja ga tau Gek. Hehehe”

SMS dari temanku Gek Puspa aku jawab simpel saja. Aku sudah tak sabar ingin  membuka pengumuman yang baru saja diinformasikan olehnya. Melalui pesan singkat dia mengucapkan selamat padaku, selamat sudah lolos seleksi awal dan berhak masuk ketahapan wawancara beasiswa pendidikan pascasarjana di Amerika.

Jujur, aku merasa sangat terkejut ketika membaca namaku ada dalam 12 orang yang terpilih untuk mengikuti tahapan wawancara di Regional Kupang. Orang pertama yang hubungi adalah Awan. Dia kakak dan penasehat yang luar biasa. Aku mengenalnya ketika bersama menjadi Duta Pariwisata Provinsi Bali ‘Jegeg Bagus’ dan kemudian bersama lagi di paguyuban Duta Bahasa Provinsi Bali. Awan banyak memberiku motivasi ketika lomba Duta Bahasa di Tingkat Nasional, dia adalah salah satu orang yang menumbuhkan semangatku hingga mampu meraih prestasi pamuncak dalam ajang ini. Demikian pula dalam   proses seleksi beasiswa USAID ini, Awan adalah inspirasi terhebat yang aku temui. Sekadar informasi, saat ini Awan sudah berada di Amerika untuk menempuh studi S-2 nya dalam bidang teknologi pendidikan. Calon tenaga pengajar terbaik yang dimiliki oleh Indonesia.

Image
(Aku, Awan dan Kak Di) Awan jomblo lho, ada yang mau?

Runyamnya Aplikasi 
Ini adalah pengalaman pertamaku mengisi form aplikasi beasiswa. Awalnya aku hanya mengunduh lalu menyimpannya di Flashdisk. Saat itu kebetulan aku tak sengaja membukanya dan batas akhir pengumpulan sudah dalam hitungan hari, bukan bulan atau minggu lagi. Sempat ragu apakah aku harus mencoba, keraguanku terjawab ketika dosenku Bu Lila memberikan dorongan untuk tetap mencoba. Aku hanya mengiyakan dan terkapar dalam kepeningan Sinus yang sangat amat menganggu. Dalam kondisi sehat saja bahasa Inggrisku sudah belepotan, apalagi dalam kondisi seperti ini?! Ahh itu hanya alasan ketika aku gagal. Tapi aku melupakan sakit dan kembali mengerjakan aplikasi yang sebagian besar ku isi dengan esai berbahasa Inggris tepat jumlah kata. I did my best!
Saat mengkonfirmasi pada dosenku tentang surat rekomendasi, aku mulai gelisah. Belum ada jawaban juga. Keesokan harinya aku baru diberi kabar bahwa lusa siang aku diminta ke kampus untuk jumpa. Karena dosenku sedang merawat orang tuanya yang sakit di RS, aku mengiyakan untuk jumpa lusa. H-1 batas akhir pengumpulan form. Aku sudah pasrah saja. Dan dibalik kepasrahanku, selalu ada kekuatan dariNya. Dosenku sangat kooperatif, aku sangat berterimakasih pada beliau. Semoga kebaikan selalu menghampiri dari segala penjuru Bu Lila :’)

Drama masih berlanjut!
Pukul 15.30 WITA aku baru mengakhiri jam kerjaku di TESA BALI. Bergegas aku menuju warnet mencetak segala aplikasi karena yang harus disetor berbentuk dokumen, bukan soft copy. Dag dig dug! Kantor pos akan tutup pukul 16.00 WITA, jika memungkinkan kantor pos pusat Renon buka hingga pukul 21.00 WITA. Tapi itu terlalu berisiko, karena esoknya adalah hari Sabtu, aku takut pengiriman akan ditunda hingga hari kerja selanjutnya. Seluruhnya sudah tercetak tepat pukul 16.00 WITA. Aku menuju kantor pos kamboja masih buka, tapi tidak melayani pengiriman kilat. Aku langsung memutar haluan, jasa pengiriman kilat masih buka. Setelah antre selama 30 menit akhirnya datang juga giliranku. Mereka masih menerima pengiriman kilat, tapi tak menjamin dokumenku akan sampai esok harinya jam berapa, kemungkinan terburuk akan disimpan dulu untuk diedarkan hari Senin. Argh! Ingin berteriak kesal, tapi itu tak akan menyelesaikan masalah. Aku memilih untuk menenangkan diri dulu, isi perut sambil menumpahkan kesalku sejenak. Warung bambu, rumah mba Diana jadi pilihanku.

Terima kasih Mba Diana
Aku berkeluh kesah padanya, ungkapkan kekesalan dan penyesalanku. Semua jejaring sosial aku ubek-ubek, mencari apakah ada sahabat mayaku yang akan berangkat ke Jakarta esok hari. Nihil! Sebenarnya aku juga akan ke Jakarta, tapi penerbanganku sore dan pasti tak akan mampu mengejar DEATHLINE pengumpulan. Semuanya menjadi terang saat mba Diana berkata : “Ya sudah titip saja sama aku, aku besok ke Jakarta. Tapi di Bandara harus ada yang jemput dokumenmu, karena ini perdanaku ke Ibu kota. Aku ga tahu jalan, hehehe” Tentu saja aku mengiyakan tawarannya. Kuhubungi Maswin temanku di Jakarta untuk minta bantuan menjemput di bandara dan membawanya ke menara Imperium. Semuanya aman! Hingga keesokan harinya….pagi-pagi aku menerima SMS bahwa Maswin tak bisa jemput karena harus mengurusi suatu hal penting. Harapanku pupus, tak bisa juga aku membatalkan penitipanku pada mba Diana, dia sudah bersiap terbang bersama dokumenku.

Advertisements