Tags

,

Aku tidak mengerti kenapa mengalami hal seperti ini berkali-kali. Boleh dibilang namanya ‘tubrukan fantastis’ karena yang bertubrukan adalah hal yang kunantikan atau mungkin banyak orang dambakan. Penantian yang terjawab secara bersamaan.

Masih ingat ceritaku dulu, ketika harus memilih ikut yudisium (penantian 4 tahun) atau ikut final Duta Bahasa Provinsi Bali (yang akhirnya membawaku menjadi juara 1 Nasional Duta Bahasa). Aku memilih untuk menjalani keduanya. Dengan pengorbanan dan perjuangan lebih. Dan tentu saja hasilnya juga melebihi apa yang bisa digapai dalam situasi normal.

Hal serupa datang lagi.
Ketika aku memasuki masa matrikulasi kuliah di UI, yang ternyata jadwal PSAFnya (Pengenalan Sistem Akademik Fakultas) berbarengan dengan seleksi wawancara beasiswa USAID. Beasiswa yang aku idamkan dan aku perjuangkan dalam periode ini. Jadwal matrikulasi (katanya proses penyesuaian mata kuliah dasar untuk mahasiswa baru pascasarjana) baru aku terima di email setelah aku membeli tiket pesawat ke Kupang. Seyogyanya matrikulasi akan dilaksanakan dari tanggal 19 Agustus 2013 s.d 5 September 2013. Aku yang sebelumnya tak kunjung mendapat informasi tentang matrikulasi ini sudah siap tiket pesawat untuk ikut jadwal kuliah normal tanggal 2 September 2013. Tanggal 31 Agustus aku akan terbang ke Jakarta bersama @aguslenyot setelah (rencananya) tanggal 30 Agustus 2013 berbaur dalam acara Final Duta Bahasa Provinsi Bali 2013 dan perayaan pesta syukuran yang sudah kurancang sebelumnya. Semuanya bubar! Tanggal 17 Agustus 2013 tanpa senjata lengkap aku terbang menuju ibu kota. Berbalut kesal dan amarah, kenapa harus mengalami lagi hal menyebalkan seperti ini. Memilih! Dan aku kembali memilih untuk menjalani keduanya! 🙂

17 Agustus 2013 aku sudah menjadi warga Depok premature. Dalam masterplanku, aku seharusnya masuk Depok awal September, bukan pertengahan Agustus. Untungnya kesan pertama di tempat baru cukup menyenangkan. Aku mengikuti alur dan menikmati setiap prosesnya. Aku menulisnya dalam : Bebas LDR & Perdana Kuliah Matrikulasi.

Rabu, 21 Agustus 2013 aku kembali ke Bali. Pulang kuliah naik kereta menuju stasiun Kota. Aku merasa beruntung, dipertemukan banyak teman baru yang baik. Ada Mba Intan yang rela meminjamkan tas kainnya untuk mengganti tas plastikku yang robek. Ada juga Mba Lia yang menjadi penunjuk arah hingga aku bisa sampai bandara Soekarno Hatta dengan harga lebih murah. Ibu-ibu gaul masa kini, asyik diajak seru-seruan 🙂

Image(Aku, Teh Isti, Mbak Intan, Mbak Galih dan Mbak Lia ‘Genk Keretangers’)

Pukul 23.40 WITA aku sampai Bali, pesawat delay karena keterlambatan kedatangan (ahh maskapai singa ini kan selalu begitu). Di Bandara Ngurah Rai aku dijemput Bapak dan Ibu. Sekitar pukul 02.00 WITA kami tiba di Kemenuh. Tanpa aba-aba aku langsung menuju kamar dan terlelap. Hari yang melelahkan, dan esok kan lebih seru lagi.

Kamis, 22 Agustus 2013 jam dinding menunjukkan pukul 08.00 aku dan bapak sudah siap untuk KEMBALI menuju bandara Ngurah Rai. Pesawat Garuda Indonesia dengan penerbangan tunggalnya akan membawaku ke pulau impianku. NTT! Untuk pertama kalinya aku akan menikmati daratan timur Indonesia ini. Gratis! Dan……..membawa misi memperjuangkan masa depan. Sepanjang perjalanan, bapak sibuk bercerita tentang kehidupannya terdahulu disana. Beliau sempat tiga (3) tahun mengabdi di Niki-Niki, Soe, NTT. Dari foto-foto serta tulisan beliaulah aku sempat mengikrarkan diri bahwa kelak aku harus berkunjung ke Kupang. Dan pada kesempatan ini akhirnya terwujud. Petualangan baru saja akan dimulai.

Advertisements