Aku masih ingat, sensasi sore itu ketika ku buka laman universitas idamanku, UI. Gemetar ku raih telepon. Diseberang sana suara pria yang selalu kurindu menyahut hangat. “Wah selamat ya, usahamu berhasil juga” Bapak sengaja memperkeras suaranya. Aku tahu ada Ibu disebelahnya. Dari nada suara yang aku dengar mereka sangat senang. Akhirnya anaknya bisa juga memakai jas kuning idaman sejak SMA dulu, mimpi yang pernah disimpan selama 4 tahun.

SELEKSI DIAM-DIAM
Badanku masih nyeri, kulitku belum seutuhnya normal. Morbili masih saja menghampiriku di usia yang makin unyu ini. uuh…sebal. Kejutan tak hanya itu, setelah menurutI kehendak bapak untuk periksa ke THT, akhirnya turunlah surat sakti rujukan untuk rontgen, katanya aku menderita sinusitis dan sudah parah. Jika rontgen sudah dilaksanakan maka operasi bisa segera dilakukan. Aku lihat wajah bapak saat itu sangat tegang, cemas dan khawatir. Ku iyakan saja si dokter ini, kemudian bergegas mengajak bapak untuk pulang. Dalam perjalanan menuju ke rumah kami kembali berdebat. Bapak tetap bersikeras untuk membawaku ke rontgen tapi aku tetap bersikukuh berangkat ke Jakarta. Uang pendaftaran seleksi masuk pascasarjana sudah ku bayar minggu lalu. Sedikit lembur, tiket pesawat PP sudah ku kantongi. Seperti biasa, bapak dan ibu tidak bisa bertindak banyak. Kecuali hampir setiap jam mengirimkan SMS menanyakan bagaimana keadaanku. Keberangkatanku kali ini ke ibu kota memang sungguh DRAMA! form aplikasi beasiswa yang tertunda dan baru beres saat hari batas akhir pengumpulan. [Duh matur tengkyu sangat pada Mba Diana yang sudah mengarungi kejamnya Jakarta demi misi mengumpulkan aplikasiku] ahh…masalah ini akan aku ceritakan nanti. DRAMA pokoknya DRAMA!.
Baiklah kembali pada kisah seleksi masuk program pascasarjana yang aku ikuti. Dalam pesawat ternyata aku tidak bisa duduk tenang. Ketika pesawat lepas landas, air mataku bercucuran. Telingaku berdenging sakit sekali, muka seluruhnya nyeri. Ini penerbangan terburuk yang pernah aku alami. Sesampainya di bandara Soekarno Hatta, aku merebahkan diri. Tertidur dan melupakan semuanya sejenak.

PESIMIS KARENA TANGIS
Saat hari H berlangsung, dini hari aku dijemput kekasih di apartemen mba Muno [makasi ya mba petuah dan tumpangannya]. Kami ke stasiun dan menuju kampus UI Depok dengan mata masih setengah tertutup. Di dalam kereta, berulangkali @aguslenyot memegang kening dan melihatku penuh iba. [Sebenarnya saat sakit ini menjadi menyenangkan jika bisa manja-manjaan. Tapi tidak sebelum tes ini berakhir]. Aku bersandar di bahunya, sepanjang perjalanan aku pegang tangannya. Diapun menyalurkan energi positif penuh semangat lewat genggaman tangannya yang hangat.
Sampai di Depok kami naik ojek mencari lokasi tes. Dia menungguiku di koridor kelas, kemudian saat pergantian mata uji, aku lihat dia ada masih menungguku di anak tangga dekat kelas. Ketakutan terbesarku adalah ketika aku mengecewakannya dengan tak memberikan usaha terbaikku. Di dalam kelas aku berpikir, aku harus lolos tes masuk ini.
Selang beberapa waktu saat soal bahasa Inggris dibagikan, wajahku kembali nyeri. Hidungku sama sekali tak berfungsi, telingaku berdenging. Aku menangis di bangkuku. Hingga seorang peserta tes melaporkan ke panitia. Aku diijinkan untuk membawa tisu serta obat yang aku butuhkan untuk masuk ke dalam ruangan tes, selain itu tidak boleh bawa apapun. [FYI : saat tes berlangsung, peserta tidak boleh membawa benda lain selain alat tulis yang ditentukan. Tidak membawa kotak pensil, kertas, alas atau jam tangan].
Tes berakhir aku buru-buru keluar. Kucari dia di koridor kelas tapi tak ada, aku naik turun tangga tak ku temukan juga dirinya. Hingga aku clingak clinguk keluar gedung barulah sinyal menghampiri HPku. Dia menungguku di taman sebelah barat. Aku berlari, seperti anak kecil kehilangan boneka kesayangannya. Mengadu pada ayah, yang akan mengatakan semua baik-baik saja.
Iya, dia pacarku, kakakku, sahabatku, ayahku dan mampu menjadi apapun yang dapat membuatku nyaman. Dia kekasihku, seperti juga bapakku lelaki yang paling bergembira setelah tahu hasil perjuanganku tidak sia-sia.

Sejak kemarin bapak menemaniku mempersiapkan keberangkatanku hari ini. Tadi pagi aku diantarnya ke bandara. Siang hari dijemput kekasih hati di terminal DAMRI. Sore ini ia mengantarku menyusuri rute kampus dan berbelanja keperluan sehari-hari. Menitipkanku pada ibu kost. Hari ini aku jadi perempuan yang paling beruntung. Ada bapak dan dia yang membuat segalanya semakin indah.

Advertisements