Tags

,

17 Agustus 2013
Aku sangat gembira bisa melihat matahari terbit yang cantik sebelum akhirnya naik ke pesawat yang membawaku ke ibu kota. Sungguh, Bali memang memesona. Membangkitkan rasa sedih jika harus beranjak meninggalkannya. Tapi kenyataannya ibu kota adalah salah satu tempat untuk menempa diri yang aku rasa dapat membentuk mental pejuang penghuninya. Tempat untuk mengasah diri untuk nantinya kembali membangun Bali. Sampai di Jakarta, aku langsung disuguhi dengan ciri khasnya ‘MACET’. Tak mau merusak mood, setelah membeli tiket DAMRI sebesar Rp 30.000 disepanjang perjalanan aku hanya memejamkan mata berharap jika sudah bangun nanti aku sudah sampai ditujuan.
Setelah melalui perjalanan yang cukup ‘memua(k)lkan’ akhirnya sekitar pukul 11 aku sampai di terminal Pasar Minggu. Disana sudah ada si abang kriwil @aguslenyot yang menanti dengan mata berbinar (Duh, gengsi amat sih bilang kangen sama aku :p). Perjalanan kali ini aku tidak menggunakan kereta api. Karena barang bawaan yang aku bawa cukup banyak (dan overbagage *eerrrr*) akhirnya kami naik taksi. Dari terminal pasar minggu hingga tempat tinggalku di Depok biaya taksi cukup membuatku meronggoh saku lebih dalam lagi. *puuft! bangkrut dihari pertama nih*
Kamar Baru

Hari ini adalah HUT RI ke 68, Hari Kemerdekaan Indonesia (yang rakyatnya belum merdeka dari kemiskinan dan kebodohan). Tapi hari ini aku adalah salah satu rakyat yang menikmati makna kemerdekaan itu. Merdeka dari LDR tentu saja. hehehe….Lumayanlah Jakarta-Depok tidak perlu mengejar tiket pesawat promo hanya untuk sekadar jumpa dan berbagi cerita. Seharian ini aku ditemani @aguslenyot OSPEK keliling Depok. Bagaimana menyeberang diantara padatnya kendaraan yang melintas. Bagaimana caranya memilih kendaraan umum jika ingin bepergian. Dan bagaimana caranya sampai kampus lewat jalan tikus. Hal terpenting dalam masa orientasi kali ini adalah bagaimana caranya menyeberangi rel kereta dengan sigap. Ini adalah point terpenting karena jalur inilah yang akan aku tempuh setiap kali berangkat ke kampus. Berkeliling UI untuk mengenal rute menuju gedung kuliahku, perpustakaan, dan danau UI. Beberapa spot menarik yang mungkin akan menjadi tempat nongkrong sehari-hari. Perjalanan kami berakhir pukul 20.00 WIB. Langit sudah mengharuskan kami pulang, dikirimnya hujan dengan sangat deras. Tidak lebih dari pukul 21.00 @aguslenyot sudah kembali ke rumahnya. Jam malam di kost putri adalah hukum kekal. Ga lucu kan kalau baru tinggal sehari langsung dinikah paksa? (aahh ga dipaksa juga mau deh nikah :3 *kuuuwks!* [iyain aja deh biar doi senang 😉 ]

18 Agustus 2013
Malam pertamaku di kost putri Maharani cukup menyenangkan. Tapi aku belum berhasil tidur tanpa lampu. Jika gelap, teringat lagi dengan ‘Glowing in the dark’ berbentuk planet, bintang, dan kupu-kupu yang selalu aku tempel di langit-langit kamar. Sayang aku tak membawanya kesini. Tidak juga kutemukan dagangnya disini. Mungkin fenomena Homesick belum aku alami, aku masih menikmati perjalanan yang baru kumulai ini. Menjadi anak rantau di daerah orang.

Aku dijemput agak siang, kali ini aku minta ditemani untuk mengisi IRS. Tumbenan menggunakan sistem SIAKNG ternyata membuatku harus lebih sering belajar memanfaatkan koneksi internet dengan lebih baik lagi. Apalagi SIAKNG adalah salah satu pemicu stres mahasiswa UI [hahaha aku menemukan guyonan ini dari beberapa kawan yang telah mengalaminya duluan] Untungnya saat aku daring, SIAKNG baik-baik saja. Aku beruntung, tapi IRS belum disetujui PA. Ini yang disebut ‘sabar menanti’ kalau tidak sabar nanti aku subur. Stres dan kemudian makan hati. Seharian ini aku menghabiskan waktu untuk daring, ngobrol, dan membaca di perpustakaan TEMPO. Alamak pantas saja @aguslenyot betah di kantor. Perpustakaannya asyik, dan aku pun asyik menyelesaikan satu persatu tentang kuliahku. Mempersiapkan diri untuk esok hari masuk di kelas perdana. Kembali berdinamika dengan suasana kampus. Kembali menjadi mahasiswa!

Advertisements