Tags

Badan masih terasa rontok, ketika malam itu saya kembali dari Gudang dekor. Beberapa kawah morbili saat Nyepi lalu, masih nangkring manis di sekujur tubuh. Usai sembahyang di rumah Balian (ini alamat rumah ya, bukan rumah profesi hehehe) saya merebahkan diri sejenak sebelum pulang ke Kemenuh. Astaga dragonnya, saya abru terbangun pukul 23.00 WITA langkah seribu berkendaralah saya setelah membalas SMS Ibu.

Hari raya Kuningan kali ini tidak seperti kuningan sebelumnya. Keluarga kami masih dalam keadaan cuntaka, jadi sembahyangnya hanya dilingkungan merajan rumah saja. Badan pagi hari sudah mulai ngilu, saya pikir tidur barang sejam dua jam akan membuatnya kembali pulih. Tidurlah saya….hingga piringan matahari menyelusup ke bawah horizon.

Umanis kuningan, sebenarnya waktu yang sangan menyenangkan saat keluarga besar berkumpul dan berbagi cerita. Aku melupakan sedikit neyri-nyeri sekujur tubuh untuk bisa berbagi tawa dengan sanak saudara. Kedatangan ponakanku yang lucu tentu saja menjadi obat penenang yang menyenangkan. Hingga malam datang, aku mendekati Bapak yang saat itu baru datang dari balai banjar. “Bapak, nyanan atuin ke dokter nah, asane yang gelem puk. Sing nyak ngeluungang asane kanti jani” (Bapak, nanti antar saya ke dokter ya, sepertinya saya sakit, belum membaik juga kondisinya hingga kini). Saat itu Bapak hanya mengangguk, sempat saya lihat wajahnya sedikit bertanya “Tumben sakit minta ke dokter. biasanya juga minta nikah!” ehhhh…. *becanda #modus

Kali ini saya langsung minta diantar ke dokter spesialis THT. Hidung bocor sudah cukup lama. Maklum sebagai pekerja penjaja suara (vocalist wannabe eaaa) apapun sakit yang berhubungan dengan telinga hidung tenggorokan pasti saya tanggapi dengan sedikit lebih serius. Kekhawatiran saya terbukti ketika dokter mengatakan bahwa saya menderita Sinusitis. Jreeeng…..penyakit artis banget (siap-siap saingan mancung hidung kayak si Rumor). Sederhananya Sinusitis ini adalah peradangan pada jaringan yang melapisi sinus. Jadi dalam rongga hidung ada empat sinus yang terletak di pipi, kedua mata, dahi dan di belakang dahi kalau terjadi peradangan atau pembengkakan dapat pula menyebabkan infeksi. Awalnya saya merasa pilek biasa saja, namun karena saya merasa dahaknya berwarna kuning, ditambah telinga berdenging dan wajah nyeri pasrahlah saya kembali dalam pelukan obat-obatan resep dokter *lagi
“WAH PARAH!” kata dokter itu disambut muka pucat bapak saya. “Cairan sudah masuk ke telinga dan harus segera di operasi” Saya terkejut, takut karena bapak terlihat lebih panik dan sedikit gemetar. UUHH!! sebal bukan main, apa saya yang terlalu sensitif atau ini dokter yang agak jablak. Pelan-pelan saya tanyakan mengenai kondisi saya.
penyebab dan gejala sinusitis
Dijelaskan sih, tapi saya lebih ngerti kalau baca sendiri hehehe…..*langsung goongling* Beliau kemudian menuliskan surat rujukan untuk saya pakai rontgen disebuah rumah sakit swasta di daerah Ubud. “Besok jika sudah rontgen bawa hasilnya kemari lagi ya” Saya hanya mengangguk kemudian bapak mengeluarkan beberapa lembar uang merah sesuai perkataan Dokter. Duh, ditraktir bapak, padahal bapak saya sedang tidak berulangtahun. :’) *peluk bapak

Di mobil kami terlibat diskusi panjang. Bapak yang ngotot besok harus rontgen dan saya yang tidak kalah ngotot besok harus siaran. Dan seperti biasa, bapak mengalah mengelus dada “Kondisimu hanya kamu yang tahu, Bapak juga ga bisa maksa” Hingga hari ini (sudah hampir seminggu) suara saya masih seperti Mulan Jamidong serak serak becek. Akhirnya setelah di melewati penerbangan dua jam saya baru merasa benar-benar harus beristirahat total. Nyeri dan dengung yang keras membuat air mata tak kunjung henti mengalir. Ini penerbangan terburuk yang pernah saya rasakan…….earplug tidak cukup membantu untuk melupakan kalau saya harus segera mencari second opinion sebelum lebih merepotkan banyak orang lagi. Tapi ternyata, sepersekian detik saya berpikir kembali. Ada banyak hal yang harus saya tuntaskan! segera!. AH MANUSIA!

Advertisements