Tags

, ,

Akhirnya genderang perjuangan kembali ditabuh dalam raga. Yuph, Pemilihan Duta Bahasa Tingkat Nasional tahun 2012 datang juga. Saya dan rekan saya (Wahyu Raditya) menyebutnya sebagai salah satu ajang relaksasi dan aktualisasi diri. Kami tidak ingin menjadikan ajang ini sebagai beban, walaupun sesungguhnya dalam benak ada tanggung jawab yang harus senantiasa kami ingat dan laksanakan. Membawa harum nama Bali ke ranah nasional dan internasional.

Aku dan Wahyu bersama dewan juri usai lomba di provinsi Bali

Aku dan Wahyu bersama dewan juri usai lomba di provinsi Bali

Senada dengan kesepakatan untuk tidak menjadikannya beban, dukungan juga datang dari banyak pihak. terutama dari Balai Bahasa Denpasar (Balai Bahasa provinsi Bali). Santai tapi serius!. Semenjak pemilihan di tingkat provinsi pada bulan Agustus kami seluruh finalis duta bahasa 2012 mulai akrab dan mendapat tempaan kebahasaan dari paguyuban atau balai bahasa di provinsi. Khususnya saya dan Wahyu. Mulai dari buku bacaan, pembekalan tes UKBI, pengendalian emosional, melatih kepekaan sosial, pendalaman kebudayaan dan kebahasaan menjadi pengisi hari-hari kami hingga bulan Oktober tiba. Bulan perjuangan para generasi muda untuk tampil menjadi garda terdepan pecinta dan pelestari Bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.

Aku dan Wahyu sudah seperti saudara

Aku dan Wahyu sudah seperti saudara

Dengan langkah mantap kami berdua menapaki sepanjang jalan bandara Ngurah Rai, bercerita tentang kegugupan dan rasa cemas yang hadir, berbagi tentang semangat optimis yang tak kunjung padam dalam diri. Saya merasa beruntung karena dapat berpasangan dengan Wahyu Raditya. Calon dokter yang sudah saya kenal sejak hampir tujuh tahun lamanya. Kami tumbuh bersama dalam wadah Forum Anak Daerah provinsi Bali. Proses penemuan ‘chemistry’ pembangkit kekompakan dan pemahaman karakter kami lakukan dengan cepat. Nuansa kakak adik sangat terasa, tanpa ada bujuk manja ketidakbisaan atau senioritas serbabisa. Kami berperilaku sangat natural, seperti bagaimana biasanya kami jika sedang dalam organisasi FADBALI. Satu minggu kami lalui dengan sangat menyenangkan. Setiap kelas yang diisi dengan diskusi hangat, waktu jeda yang selalu diisi dengan canda tawa, perbedaan pendapat, adu argumen, ‘care’, dan tentunya keseriusan dalam setiap tes yang dilaksanakan. Masih jelas dalam ingatan saya ketika tes UKBA (Uji Kemahiran Bahasa Asing) sempat sedikit ngadat akhirnya kami selamat berkat kekompakan. Saat menjadi petugas upacarapun demikian. Aku dan wahyu memang memiliki dasar baris berbaris yang cukup baik. Kami sama-sama adalah purna paskibraka. Melaksanakan inipun kami sangat kompak. Saya sebagai pembawa baki dan wahyu sebagai pengibar bendera.

Pasukan Pengibar Bendera Upacara Peringatan Sumpah Pemuda 2012

Pasukan Pengibar Bendera Upacara Peringatan Sumpah Pemuda 2012

Koreksi introspeksi! kami melakukannya hampir tiap malam. Demikian pula saat presentasi, terjadi kekeliruan dan segera diluruskan oleh pasangan. Untuk kekompakan ini saya sangat berterimakasih pada Wahyu dan tentunya Ibu Masni di LPA Bali yang tidak pernah bosan menempa pribadi kami “Tidak ada gunanya saling menyalahkan, carilah solusi lalu perbaiki. Jangan lakukan kesalahan yang sama dikemudian hari”.

Mungkin kenangan tak terlupakan lainnya adalah saat kami tiba-tiba ditunjuk untuk menjadi salah satu pengisi acara Puncak Bulan Bahasa. Saya ingat betul, Wahyu sempat pucat pasi ketika kami menyanggupi tantangan tersebut. Mulailah kami bergerilya di pura Aditya Jaya Rawamangun mencari perlengkapan dan kostum menari. Kreativitas kami diuji, memanfaatkan apa yang ada untuk kami olah tanpa mengurangi kreasi seni yang sebenarnya. Semalaman hingga subuh kami menyelaraskan gerak tari, dan keesokan harinya harus bangun pagi untuk menata rias dan wajah.

Aku sebelum pentas menari berfoto bersama Rekan Duta Bahasa lainnya

Aku sebelum pentas menari berfoto bersama Rekan Duta Bahasa lainnya


Saat pentas di panggungpun kami diberikan kejutan lagi. Paha hingga betis sepertinya berat untuk diangkat. Saya tengok Wahyu diapun mematung. Ahh…tapi lega rasanya ketika tari Puspawresti kami akhiri disambut tepuk tangan yang meriah dari penonton. Dibelakang panggung, sembari mengelap keringat Wahyu berkata “Kak tadi kaki ku keram, untung ga srandang srendeng” Aku menyambutnya dengan tertawa lebar “Hahaha samaaaa aku juga keram, pantas saja tadi kita berdua clingak-clinguk ga karuan
Lembur ngalih busung lan matetuesan :)

Lembur ngalih busung lan matetuesan 🙂

Suasana makin panas dan menegangkan mendekati puncak acara, siapakah yang menjadi juara dalam pemilihan tahun ini. Kali ini saya dan wahyu melupakan sedikit ketegangan karena sanggul di kepala saya belum terpasang dengan baik. Waktu yang diberikan panitia untuk saya menukar kostum tari menjadi busana daerah sangat sebentar sekali. Alhasil, ketika masuk aula sanggul saya masih mereng kiri mereng kanan. Sesekali wahyu merapikan kainnya dan memegangi sanggul saya yang geal-geol seperti hendak jatuh. Ditengah kehebohan kami berdua, panitia kemudian membaca satu persatu nama dan daerah pemenang. Mulai dari harapan 3, hingga juara 3 nama kami tak disebutkan. Aku dan wahyu saling tatap dan berbicara dalam hati. “Ya sudah mari iklaskan” Hingga saat pengumuman juara 1 disebutlah Bali atas nama Kadek Ridoi Rahayu dan I Gde Wahyu Adi Raditya untuk naik ke panggung. “AAAAK!!” Aku dan wahyu melepas jepitan dan sanggul yang telah menyita perhatian kami dari tadi. Kamipun berpandangan, senyum dan melangkah maju dengan dada berdebar.

Seluruh Duta Bahasa Nasional tahun 2012

Seluruh Duta Bahasa Nasional tahun 2012


Setelah menerima penghargaan aku berbisik pada wahyu “Dik, untung ya sanggulku ga lepas ;)” Dia hanya menjawabku dengan senyuman karena ada banyak kamera yang menghadapkan moncongnya pada kami berdua.

Pengalaman yang menyenangkan bisa menjadi bagian dari keluarga besar Duta Bahasa Nasional tahun 2012. Tentu saja ini bukan akhir perjuangan kami dalam menggetoktularkan semangat berbahasa Indonesia. Ingat: “Jangan Lupakan Bahasa Daerah, Cintai Bahasa Indonesia, Kuasi Bahasa Asing”

Advertisements