Tags

, , ,

Jika ditanya, apa saja syarat untuk menjadi pacar yang baik? Mungkin mendukung segala aktivitas dan kegiatan positif pacarmu adalah salah satu jawabannya. Terlepas dari segala bentuk kejengkelan dan permakluman yang kerap kali datang saat keikhlasanmu sebagai seorang pacar diuji dan dibagi untuk hal tersebut. Ya, ini seperti terdengar sebagai sebuah curhat, atau menurut saya sejenis surat terbuka lah ya… *ngikut-ngikut trend masa kini, hehehe* Intinya apapun hobi atau cita-cita pacar sudah semestinya sebagai seorang pacar yang baik kita mendukungnya….em…tapi kalau untuk jadi idol? *saya sih mikir-mikir juga, kasian pendengarnya #eh*

Pertama kali jatuh cinta pada buah dadanya, eh buah tangannya *kok terdengar aneh ya* maksud saya pada buah karyanya di pers kampus… Dia suka menulis terkadang untuk beberapa hal yang saya sendiri (sebenarnya) tidak mengerti. Awal berkenalan karena tulisannya tidak tahu wajahnya, saya hanya mengkliping beberapa tulisannya yang saya anggap menarik. Tegas, lugas, berkharisma saya tertarik pada caranya menyampaikan ide gagasan. Misterius dan ganteng, tapi yaaa setelah bertemu juga ga begitu-begitu banget lah orangnya , hihihihi *kecup kecup*

Setahun yang lalu, jam segini saat saya kembali dari bandara mengantar dia untuk berangkat ke ibu kota. Tas ransel besar yang digendongnya sepertinya melambaikan tangan padaku. Duh seandainya saya bisa ikut menyelip di antara selipan barang di dalamnya mungkin saya ga perlu #nyebakgoargoar sepanjang jalanan dan membuat orang terkejut disetiap lampu merah. hahaha…..

Punya pacar wartawan,

sebenarnya tidak menjadi cita-cita terdahulu. Namun apa daya akhirnya hati tertambat pada si dia. Suka duka tentu banyak sekali. Hampir seribu hari pandangan mata terhalang banyak tiang untuk dapat menyapa. Kendala jaringan, keuangan dan kenyamanan sudah menjadi hal yang biasa. Duh kalau saja saya tidak berikrar pada diri sendiri untuk menjadi pacar yang baik, mungkin saya akan berfikir ulang untuk meneguhkan hati berkomitmen. Hihihi…apa dia masih ingat? sewaktu saya menguntit kemanapun dia bertualang demi pena. Saya suka terlibat dalam setiap pengalaman baru yang ia dapat ditempat kerja. Mungkin masih diingatnya juga, saat saya dandan super cantik dengan memegang tiket bioskop di malam minggu kelabu itu. Ya, kerjaan memang selalu jadi prioritas, gagal sudah kencan di bioskop, ujung-ujungnya nangkring di sanglah untuk tulis berita. Hahaha…… serupa tapi tak sama, saat kunjungan saya ke ibu kota. Kegiatn lain nya yang padat tak memberi waktu kami untuk bertatap lebih lama. Rencana diatur dengan matang, semua dipersiapkan dengan suka cita. Namun sayang, kedatanganku berakhir di lorong RS Kramat jati. Bukan apa-apa, tapi dia harus liputan mengenai bom yang meledak kala itu. Duh, ingin rasanya nangis sejadi-jadinya…namun saya yakin ini bukanlah ujian terberat dalam hubungan kami. Ini hanya riak kecil yang pasti muncul untuk memberi warna keunikan dalam setiap perjalanan kisah kami.

LDR? OH NOOO!!!

LDR *bukan long dic*k reduction! salah satu hal yang menyebabkan saya sulit tidur. memikirkannya saja takut apalagi menjalaninya. Namun malam itu, ketika dia bercerita dengan mata penuh harap dan senyum meyakinkan akhirnya saya luluh juga. Ya tak salah juga mencoba sesuatu hal yang baru dalam kisah hidup kami. Toh, jarak dan waktu sudah bisa ditempuh dengan canggihnya zaman ini. Duh tapi saya tetap saja suka galau. Ada saja hal-hal yang membuat tak nyaman, tapi untungnya semua masih bisa diselesaikan dengan berdiskusi dan sedikit cium kening hihihi…

Setahun sudah kami terpisah laut daratan. Ada banyak cerita indah yang tertulis dalam pena kasih tersayang. Suka duka yang ada tentunya bukan penghalang, namun bisa jadi ujian untuk kekuatan di masa depan.

Selamat sudah lolos di tempat kerjamu sayang, selamat meraih cita-cita.

Ketika pulang, ada aku menunggumu dengan senyuman dan peluk hangat…

09-10-11 — 09-10-12

Advertisements