Tags

,

Siang ini saya duduk sendiri di kursi kantor. Teman-teman sedang istirahat makan siang, tapi saya lebih memilih untuk berselancar di dunia maya. Awalnya ingin membaca beberapa tautan berita yang menarik namun kemudian mata saya mulai berkaca ketika membaca beberapa kicauan di twitter mengenai Putri. Seorang gadis belia, yang berita kematiannya saya baca beberapa hari lalu. Awalnya saya hanya miris ketika tahu caranya mengakhiri hidup dengan bunuh diri. Namun kini saya terisak, membaca surat yang ia tulis untuk ayahnya yang sangat ia sayangi. Sepucuk surat yang ditemukan di tasnya, ketika gadis itu tak lagi bernyawa, badannya tergantung di kayu palang kamar. Tiba-tiba terbayang dalam benak saya, bagaimana sang gadis belia sesengukan menghapus air matanya sambil terus menulis kata demi kata di kertas putih ini. Iya, segala yang ingin ia katakan, sebelum akhirnya ia memilih untuk pergi dan meninggalkan segalanya. selamanya…

Sebelumnya dalam beberapa media elektronik saya sempat membaca berita mengenai kasus PE, gadis Aceh berusia 16 tahun yang terkena razia polisi syariah di Langsa, Aceh, gara-gara berkeliaran malam hari. Hari ini saya membaca bebarapa twit dari akun @MardiyahChamim seorang jurnalis yang menceritakan kisah ini dalam hastag #putri
Jika teman-teman ingin membaca info lengkapnya bisa membaca artikel yang berjudul “Why Would Putri Erlina, 16, Kill Herself?”

Dari kejadian ini banyak hal yang dapat dipelajari, terutama mengenai sikap kita dalam memperlakukan sesama. Bagaimanakah sakitnya perasaan orang yang menjadi ‘pergunjingan’ di masyarakat saat tertimpa suatu masalah? bagaimana kita bisa bersikap jika berada pada posisi orang tersebut? Tentu saja rasanya sakit!. Maka janganlah menyakiti.

Putri, suratmu bercerita betapa berat langkah hidupmu, betapa kuat rasa perihmu.
Tapi saya yakin, suratmu akan menjadi pengingat kami, untuk lebih baik lagi berkomunikasi dengan sesama.

Selamat jalan Putri, semoga tenang di alam sana. Rest in Peace, Heaven Holds.

Advertisements