Tags

,

“Simpanlah slip pembayaran SPP mu layaknya menyimpan surat cinta dari pacarmu” 

Pernyataan tersebut sangat perlu diterapkan oleh kolektor tiket, karcis, ataupun slip pembayaran yang beraneka ragam. Sepintar-pintarnya tupai melompat, ga bakal bisa nyaingin si pocong #eh… maksudnya pasti akan pernah jatuh jua. Terkadang, orang yang suka mengumpulkan ini itu pasti akan pernah kehilangan selembar saja dan bisa saja itu lembar yang cukup penting. Jadi, Waspadalah… Waspadalah!

Kehebohan ini berawal dari pengumuman untuk daftar wisuda. Salah satu syaratnya adalah menyetorkan slip SPP  terakhir. Awalnya saya santai saja karena saya biasa mengumpulkan semua dokumen kuliah dalam satu map batik. Tapi ternyata tidak untuk satu lembar ini. Slip SPP terakhir saya LENYAP!

Saya yakin meletakkannya dalam tempat yang aman, tapi lupa entah dimana. Kebetulan awal tahun kehidupan saya agak krodit, jadi sepertinya ini juga berpengaruh untuk konsentrasi saya. Pilu? sangat! Karena harus menempuh proses yang agak jelimet bin ruwet! Dari administrasi fakultas saya diarahkan untuk menghubungi bagian prodi, tapi dari prodi saya kembali dilepar ke pihak fakultas. Akhirnya saya memutuskan untuk datang ke Bank Mandiri cabang veteran untuk meminta bala bantuan. Namun semuanya tak semudah yang saya kira. Mari mainkan!

Dari penjelasan CSA di bank tersebut, saya diharuskan mengingat tanggal transaksi, wajah dan nama teller yang melayani saya waktu dulu. Karena transaksi di Bank sangat banyak dalam 1 hari. Pencarian masih dilakukan dengan cara manual, jadi tidak bisa langsung diberikan hasil. Cara lain yang ditawarkan adalah : BAYAR SPP LAGI!. (Untuk cara yang ini sepertinya saya menyerah)

Karena sudah tak bisa sama sekali mengingat siapa teller yang melayani, maka saya memutuskan pulang saja dan menunggu ada teman lain yang mengalami nasib serupa. Tak lama, saya mendengar kehebohan serupa dialami oleh teman lainnya. Hehehe…. *yes dapat teman!* Akhirnya, teman saya memutuskan untuk memberanikan diri meminta lagi pada pihak kampus dan diberikan dengan syarat harus dicari sendiri. Singkat cerita akhirnya foto kopi slip SPP dipegang sudah. Semuanya sudah aman.

Tapi kehidupan tak seindah negeri dongeng (we, lebay ini *plak!*) Hari ini saya bangun pagi untuk berangkat ke bukit daftar wisuda. Untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan akhirnya saya membawa seluruh dokumen foto kopian ataupun yang asli dalam tas. Namun apa dikata, Sial? mungkin saja, ternyata slip pembayaran wisuda dan alumni yang asli tak ada dalam tas. Dan panitia tidak mengijinkan foto kopian, atas saran yang diberikan oleh teman akhirnya saya menuju Bank Mandiri cabang terdekat. Di Nusa Dua. Dari penjelasan CS saya disarankan untuk menanyakan permasalahan ini di bank tempat transaksi. Alasan utamanya adalah di cabang tersebut tidak terdapat datanya. Lumayan juga kalau balik ke Veteran lagi lalu ke Bukit lagi. CS mencoba menanyakan lagi hal ini ada ‘entahlah siapa’ namun jawabannya tetap sama, TIDAK BISA!. Ya dan saya pasrah, kembali ke Denpasar dengan lunglai.

Sampai di Mandiri Veteran sekitar jam 14.15 Wita. Saya langsung menuju gedung belakang namun gedungnya sudah tutup. Informasi dari satpam saya menuju ke ruang CSA. Menunggu sekitar 20 menit karena semua pegawai tampak sibuk mengerjakan pekerjaan masing-masing. Kemudian, salah seorang pegawai mempersilakan saya untuk menuju ke meja nya. OKESIP! Wajah saya cukup familiar di ruang itu, belum ada sebulan yang lalu saya datang, sekarang nongol lagi dengan keluhan yang sama.

Ibu berambut pendek itu menjelaskan bahwa slip yang hilang tidak bisa diganti dengan slip yang baru. Mereka hanya bisa mengesahkan fotokopian dengan cap legalisir. Hal ini berlaku pula untuk slip SPP yang hilang. Karena bank hanya memiliki satu dokumen saja dan itu tidak boleh diberikan kepada pihak lain.

Dari penjelasan seorang teman, kejadian seperti ini sudah sering terjadi dan sering membuat salah seorang keluarganya yang bekerja di Bank tersebut sering pulang larut malam. Ia menjelaskan kepada saya bahwa sistem pembukuan tidaklah mudah. CS bersangkutan bertanggung jawab penuh (termasuk) kesalahan pada transaksi serta ganti uang yang miss (berapa rupiah-pun itu) akibat kesalahan dari pihak nasabah ataupun CS itu sendiri. Kenyataannya setiap hari nasabah yang melakukan transaksi tidaklah sedikit disinilah gunanya apabila kita mengingat tanggal transaksi dan teller yang melayani untuk mempermudah pencarian slip yang hilang.

Melihat kejadian ini hampir terjadi tiap tahun, saya bertanya apakah tidak ada solusi yang lebih praktis untuk menangani masalah tersebut? Mereka menyatakan pembayaran dan urusan selanjutnya mengenai transaksi yang telah dilakukan hanya bisa diurus di tempat yang sama tidak bisa di cabang lainnya.

Awalnya sempat kesal juga karena saya merasa hal seperti ini bisa diselesaikan dengan lebih praktis namun balik lagi seperti kata teman saya “mungkin situasi pembukuan atau perbankan tidak semudah yang saya pikirkan” Tapi jika ada penyimpanan online atau sistem jaringan sharing data antar cabang mungkin semuanya bisa lebih praktis ya? ini pikiran saya, maaf jika tidak sesuai. Tapi berhubung ini kesalahan saya juga karena tidak menemukan tempat penyimpanan slip tersebut, ya saya harus siap menanggung segala risiko yang ada. Teman saya yang lain pernah mengalami kasus kehilangan slip juga, tapi akrena dia melakukan pembayaran dengan trasnsfer ATM dia bisa mencetak Slip di cabang mana saja. Sayangnya saya baru ‘ngeh’ dengan informasi ini di saat terkahir saya membayar biaya studi, tapi ini bisa jadi catatan dan pelajaran juga untuk teman-teman yang mungkin bisa saja ‘sial’ mengalami hal serupa. Alangkah lebih baik jika kita bisa lebih bijak menyimpannya, ingat slip SPP, KHS, KTM, KRS, dan dokumen lainnya sebaiknya diletakkan dalam map yang mudah ditemukan dan aman. Jangan disimpan seperti harta karun, yang memerlukan peta atau pemburu untuk dapat menemukannya. Nanti susah sendiri loh! *nyindir diri sendiri*

Advertisements