Tags

,

“Beberapa waktu yang lalu saya sempat berkeluh kesah di blog pribadi ini. Tentang jadwal yang bertabrakan dan keputusan untuk memilih. Sekarang saya sudah mendapatkan jawabannya. Jawaban dari segala kepasrahan yang ternyata tak berarti menyerah dan lemah.”

Kamis, 19 Juli 2012
Saya masih bisa tertawa mengikuti latihan drama untuk final duta bahasa, dan dengan semangat mengikuti gladi yudisium yang akan dilaksanakan ke esokan harinya. Dalam hati sudah mengikhlaskan apapun yang terjadi dan positif tidak akan mundur dari dua kegiatan tadi. Setelah mumet daftar Online Wisuda dengan mata setengah terbuka saya melanjutkan perjalanan menuju Kemenuh. Sepertinya rumah adalah tempat yang paling nyaman untuk saya tempati kala itu, mungkin mengadu pada merajan adalah salah satu cara manjur untuk tenang. Saya butuh suasana yang jernih untuk mengatur strategi esok hari. Mengantuk atau tidak, jam 11 malam saya harus terlelap.

Jumat, 20 Juli 2012


Tepat jam 7 pagi saya sudah membuat heboh di rumah. Bapak dan Ibu sudah siap, mereka berdua akan menemani saya seharian ini. Terimakasih, sudah menjadi orangtua yang sangat pengertian untuk anakmu yang ‘Luar Biasa’ ini. Kami pun segera menuju Salon Dodik. Awalnya saya sudah putus asa, ketika Dewa Dodik (pemilik salon) mengatakan tidak bisa merias karena akan merias pengantin di Bangli. Tapi H-1 ternyata ada kabar gembira bahwa dia bisa, asal saya tepat waktu datang ke salon. Suasana sudah aman terkendali. Tidak demikian pada menit ke 60 setelah saya sampai di salon. Ternyata tata rambut saya harus di bongkar lagi karena tidak maksimal. Duh, sebal kenapa saya harus keramas dan menggunakan hair tonic dulu. Akhirnya dengan hati yang dag dig dug, jam 9 Tepat selesai juga tata rias muka dan rambut. Kami segera meluncur ke kampus untuk mengikuti acara yudisium. Ketakutan saya terbukti, acara tidak dimulai tepat waktu. Keringat mulai mengucur, tak henti-hentinya saya memandangi jam tangan. Tapi 30 menit kemudian acara pun dimulai.
Bangga? iya. Apalagi melihat raut muka kedua orangtua yang sejak 4 tahun lalu menyimpan ketakutan putrinya bisa lulus kuliah tepat waktu. Ya, selain pengalaman di lapangan, lama kuliah juga menjadi salah satu syarat pertimbangan keseriusan kami di rumah. Jika satu saja jenjang molor, maka ini akan berpengaruh dengan tahapan berikutnya. Saya tahu betul syarat itu, iya sejak kakak saya berhasil lulus cum laude dulu.

Ketika jam hampir beradu tepat pada angka 12, ingin rasanya saya tidak usah berpindah ke tempat lain. Suasana dalam ruang yudisium sungguh membuat saya tak ingin melewatkan 1 momen manispun bersama teman-teman. Beruntungnya saya karena ternyata acara yudisium tepat selesai jam 12. Setelah foto bersama dua kali jepretan, sayapun langsung kabur bersama Bapak dan Ibu. Lagi-lagi mereka dengan sabar mengikuti pola hidup anaknya yang bertubrukan tak jelas ini. Tanpa sempat sarapan atau makan siang, kami menuju gedung Nari Graha.
Deg-degan? tentu saja. Gemetaran? ya iyalah perut belum terisi, energi sudah hampir habis! Berdiripun kaki tak kuat, tapi ini lomba tak seorangpun boleh terlihat lemah di mata lawan. Sayapun mengikuti gladi resik dengan sebaik-baiknya. Terimakasih untuk kak Dede yang sudah menawarkan makan dan langsung saya sambut dengan semangat! makasi juga buat ibu yang sudah ke belakang panggung dan menyelipkan susu beruang dalam kantong. Sekarang saya siap untuk bertempur saya berteriak dalam hati,” DOI PASTI BISA!”

Tak disangka namun saya pastikan akhirnya terpilihlah tiga besar. Dari kelompok putri ada saya, Vanesa, dan kak rastiti. Dua peserta putri ini memang sudah saya prediksi sebelumnya akan melaju ketiga besar. Mereka istimewa, Vanesa yang selalu bersemangat, dan kak Rastiti yang teliti dan sudah tidak diragukan lagi pengalamannya dalam dunia sastra. Tapi lingkungan mengajarkan saya untuk selalu berpikir optimis. Kontrol emosi jangan sampai jadi ambisi. Saya hanya butuh konsentrasi, dan menyiram kembali harapan yang sudah saya tanamkan dalam diri. Tiga besar berlalu dengan cepat. Entahlah ketika akan menajwab pertanyaan tiba-tiba terlintas di benak saya bagaimana pengorbanan Bapak dan Ibu bagaimana kesabaran pacar saya dalam mendengarkan setiap keluh kesah saya. Saya mewanti-wanti dalam hati, saya harus bisa. Demi saya dan demi mereka tentu saja! Yang terpenting saya sudah berusaha, untuk hasilnya akan saya serahkan pada dewan juri dan Dia yang berhak.

Berapa persen keyakinan untuk menjadi juara? 50%! Saya sudah mempersiapkan diri untuk segala kemungkinan yang terjadi. Tapi saya sudah sangat bersyukur bisa masuk ke enam besar, bertemu dengan banyak orang hebat, mendapat ilmu, pengalaman dan juga bermain emosi dengan diri sendiri. Kembali saya pasrah….tentu saja setelah berusaha. Saat pengumumanpun tiba, tersisa saya dan kak Rastiti. Latihan mental untuk kalah sudah pernah saya alami berkali-kali demikian pula untuk menjadi pemenang. Saya hanya berusaha tegar dan membiarkan Ucik (Duta bahasa 2011) bermain dengan selempanganya. Hingga akhirnya selempang itu menyentuh pundak saya. Tak henti saya mengucapakan terimakasih dalam hati. Dan untuk pertama kalinya saya berani menatap langsung ibu saya yang menonton di pojokan belakang. Iya, ini juga pertama kalinya saya berani berlomba ditemani ibu dan tak tegang seperti dulu. Saya harus menguasai pikiran bahwa yang menyebabkan saya kalah dalam perlombaan dulu bukan karena kehadiran ibu saya, tapi karena saya yang terlalu takut untuk mengecewakan ibu dan malah tak bisa mengontrol emosi. Ya begitulah, pikiran bisa saja berubah seiring dengan waktu ayng kita tempuh.

Tanggal 20 yang cukup bersejarah bagi saya. Langkah awal dimana saya harus menapaki kehidupan yang baru di dunia kerja sebagai seorang Kadek Ridoi Rahayu, S.KM (Sarjana Kesehatan Masyarakat) dan sebagai Duta Bahasa 2012. Terimakasih untuk semua yang telah mendukung, memberikan semangat dan membantu saya dalam dua momen berharga tersebut. Semoga kedepannya saya bisa menjadi lebih baik lagi dan dapat memberikan yang terbaik pula untuk semuanya.

“Di bawah bintang langit Kemenuh, ku hirup oksigen dan peluk semesta
Bersama jangkrik dan burung hantu yang tak pernah mengutuk nestapa
Setelah berusaha kemudian pasrah, Aku percaya hidup ini tak mudah.
Lalu aku bisa apa?”

Advertisements