Tags

, ,

“Toh hari anak cuma tanggal 23 Juli saja kak, selain tanggal itu ya kami tetap hidup seperti biasa di jalanan”

#Njleb! hingga detik ini saya masih mengingat kata-kata anak itu, sejak 5 tahun yang lalu dalam perjumpaan kami di perayaan Hari Anak Nasional.

[Fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara]

Kalimat ini bukan hanya menjadi soal saat ulangan PPKN zaman dulu atau materi presentasi pelajaran Kewarganegaraan saat ini. Ya, hal ini jelas tertuang dalam Undang-undang Dasar tahun 1945 pasal 34. Lalu bagaimana implementasinya dalam kehidupan nyata? Masih banyak anak-anak harus menghadapi kehidupan liar di luar sana, tidak sedikit dari mereka yang harus tidur di jalanan. kemana pemerintah kita? Apa mereka sudah lupa amanat bangsa? Saya pikir saat ini mereka sedang sakit. (Maaf saya ralat) Mereka sudah sakit sejak lama, dan saat ini sakitnya makin parah!

Indonesia negara yang kaya, kita patut bangga menjadi penduduk Indonesia.
Hal itu memang benar!. Indonesia memiliki sumber daya manusia yang berpotensi untuk membawa negara kita memasuki percaturan perekonomian dunia. Secara demografi Indonesia didominasi oleh penduduk usia produktif. Pertumbuhan perekonomian dari tahun ke tahun selalu mengalami peningkatan. Bahkan oleh Bank Dunia Indonesia diprediksi akan mengalami pertumbuhan ekonomi pada tahun 2012 dalam kisaran 6 persen. Pertumbuhan ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi dunia yang hanya berkisar 4 persen.
Selain itu yang tak perlu diragukan lagi adalah sumber daya alam kita yang kaya. Tanah yang subur, serta hasil tambang yang melimpah. Indonesia memiliki produksi emas sebesar 6,7 % dari total produksi emas di dunia atau peringkat ke-6 di dunia, Logam tembaga di Indonesia diproduksi sebanyak 10,4 % dan menduduki posisi ke-2 di dunia, batubara di Indonesia tercatat berproduksi sebanyak 246 juta ton atau berada di peringkat ke-6 terbesar di dunia setelah China, Amerika, Australia, India dan Rusia. (anakui.com)
Melihat kekuatan yang dimiliki oleh negara kita, lalu apa yang salah sehingga dalam kenyataannya masih sering kita lihat pekerja anak mengorbankan waktu bermain, waktu belajar dan waktu yang berharga untuk mereka menikmati masa kanak-kanak nya dengan bekerja. Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) mencatat, dari 6,5 juta pekerja anak berusia 6-18 tahun, sebanyak 26 persen di antaranya bekerja di lingkungan yang berbahaya bagi anak. (Tempo.co)

Berdasarkan data dari Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) diperkirakan ada 688 ribu anak di Indonesia yang bekerja sebagai pembantu atau pekerja rumah tangga. Pekerjaan ini kerap kali memberikan dampak buruk bagi anak, Mulai dari eksploitasi dan kemungkinan untuk mendapatkan kekerasan psikis, mental dan seksual serta meningkatkan kasus human trafficking. Menurut data KPAI, pada 2010 ada 339 kasus perdagangan anak. Tahun 2011, hingga April, KPAI telah menerima 36 kasus. Modusnya beragam, dari mulai penculikan, pembiusan, dan yang terbaru perkawinan siri.

Itu hanya sebagian kecil saja dari kehidupan nyata anak Indonesia. Miris! lalu mana tanggung jawab negara untuk memenuhi apa yang dimandatkan oleh UUD 1945? Sejauh mana upaya tersebut memberikan hasil? Apakah masalah anak tak menjadi prioritas dan tak memiliki sisi strategis untuk disikapi? Pemerintah INGKAR!

Advertisements