Tags

,

Main Layangan, siapa yang tak suka?
Saya memiliki banyak kenangan dengan layangan, sejak kecil saya suka main layangan. Di Seririt saya memiliki beberapa orang teman yang memang ahli memotong buluh dan membuat layang-layang, kami biasa main di tanah lapang dekat rumah atau di lapangan sekolah. Saya juga senang mengejar layangan putus, walaupun sampai detik ini tidak pernah berhasil menangkap satu layangan pun, saya tidak pernah kecewa.Saya suka melihat wajah optimis teman-teman yang memberitahukan teman lainnya bahwa ada layangan putus. Kamipun berhamburan, berlari, dan tertawa. Emm…. seingat saya, terakhir main layangan awal tahun lalu di Serangan. Main seadanya dengan kriwil tapi penuh tawa. Kalau nonton layangan sih di festival tahun lalu, ya berada di tengah tanah lapang besar dengan hembusan angin pantai yang kencang dan di langit ada raksasa mengudara. Saya terpesona namun was-was, takut terkena benang atau malah kena layangan itu sendiri. Ingat cerita seorang teman yang lehernya terkena benang layangan hingga menyisakan bekas luka yang tidak kecil, saya jadi bergidik ngeri sendiri.

Minggu sore beberapa teman sempat bercerita mengenai pesan berantai yang diterima melalui smartphone mereka. Saya pikir itu hanya hoax karena tak ada yang menyertakan link berita dari situs resmi. Malam harinya saya mendapatkan link beritanya lewat jejaring sosial. Dan memang benar di arena festival layang-layang telah terjadi kecelakaan dan memakan korban. Hal yang pernah saya takutkan sebelumnya, tertimpa layangan raksasa dan korbannya adalah seorang anak-anak .

Saya jadi terbayang, bagaimana serunya arena layang-layang tersebut. Penonton yang mendongakkan kepala menyaksikan layang meliuk-liuk di udara. Terpukau saat layangan raksasa dengan gagahnya melaju menembus langit. Terbayang juga bagaimana seramnya ketika layangan itu menukik menghantam tanah. Cukup ekstrim rasanya jika penonton berada terlalu dekat dengan layang-layang tersebut. Melihat antusiasme masyarakat menyambut acara ini, memang lebih baik jika penonton yang hadir diberikan tempat khusus untuk menonton dengan batasan yang jelas dan pengawasan yang tegas. Dengan persiapan dan pengamanan yang lebih matang kecelakaan yang terjadi seharusnya bisa dicegah.

Tidak hanya saat di lapangan, beberapa hari ini saya merasa gerah juga membaca linimasa twitter ataupun status teman-teman di FB yang mengeluhkan arogansi para pengarak layang-layang di jalanan. Ada yang mengeluhkan karena pawai layangan ini membuat macet jalanan, ada pula yang merasa terganggu akibat mendapat perlakuan tidak menyenangkan seperti dibentak atau di klakson beramai-ramai. Sebenarnya tahun lalu saya mengalami hal serupa, saat mengendarai sepeda motor dan kebetulan ada rombongan sepeda motor berarak mengawal sebuah layangan besar dalam truk. Tak mau cari perkara, saya pun meminggirkan kendaraan dan mengurangi kecepatan motor saya, saya biarkan mereka mendahului. Ketika menepi ada beberapa orang yang sempat melemparkan beberapa kata-kata godaan yang membuat saya tidak nyaman. Tidak jauh, kemudian rombongan itu mengklakson sepeda motor yang berkendara agak lambat. *TEEEEEEEET TETETETETETETETT* Sepeda motor itu pun melakukan hal yang sama, memperlambat laju kendaraannya namun tak menepi. Saya lihat ada anak kecil yang awalnya girang melihat layangan raksasa berubah menjadi kalem, si anak pasti terkejut!.

Duh! tahun ini saya memilih untuk menghindari rute dan jam layangan masuk jalanan. Sedang tidak mau buang kalori karena dongkol!.
Tapi yah, ini tentu saja tidak dilakukan oleh semua sekaa layangan. Karena saya juga melihat ada yang beriringan dengan rapi dan mengenakan helm. (mungkin mereka memiliki kesadaran ketika naik motor, walaupun menggunakan kain/udeng aspal tak akan berubah jadi lembek! ya saya juga percaya itu!)

Jika kegiatan ini diagendakan rutin, evaluasi tentu sangat berperan untuk perbaikan acara ini dan meminimalisir kejadian tidak menyenangkan. Entah mulai dari pemberangkatan yang sebaiknya lebih diatur atau diawasi, keamanan saat berlangsungnya lomba, serta kepulangan layang-layang ini ke daerah masing-masing.

Bali yang dielu-elukan sebagai pulau surga hendaknya mampu pula memberikan surga bermain untuk anak-anak. Menjadi kota layak anak semoga bukan hanya sekedar untuk eksistensi namun memang tulus untuk menciptakan lingkungan yang mampu mendukung tumbuh kembang anak dengan baik. Hak bermain anak sering dianggap suatu yang mudah namun sering terlupakan. Anak juga berhak untuk bermain dan pemerintah, keluarga serta semua pihak berkewajiban untuk mendukung terciptanya situasi aman dan nyaman untuk anak bermain. Salah satu implementasinya ya melindungi anak yang hadir dalam kegiatan festival layangan ini. Tidak perlu menggelontorkan banyak dana, cukup keseriusan dan komitmen bersama!

Tulisan lain tentang Hak bermain anak.

Advertisements