Tags

,

Mungkin tepat setahun yang lalu, saat saya berucap dengan lantang : “Cepatlah… skripsimu harus segera dituntaskan. Jika terus mandeg disini, lalu bagaimana mimpi-mimpi itu bisa terwujudkan segera?”

Seandainya saya tahu, pasti saya tak akan berburu dengan waktu jika sudah membahas satu kata tadi yang disamarkan namanya menjadi ‘skripsay’. Jreeeng! sangat menyeramkan dan dapat menimbulkan ketakutan berkepanjangan. Duh! Bahkan untuk memejamkan mata saja sangat sulit (T__T) i need more sleep, voo to the less pliss #nyebakGoarGoar

Saya takut pada diri sendiri!

Iya, saya setuju pernyataan itu. Mengapa? Karena dari awal saya meyakini bahwa apapun yang saya lakukan pasti tak akan menempuh jalan normal. Mulai dari hal kecil, hingga menyangkut hidup dan mati. Bukan berlebihan, kadangkala saya malah merasa bingung sendiri. “Apa sih yang diinginkan oleh penentu rute hidup ini untuk sosok kadekdoi?” Sering saya iri jika melihat orang lain dapat melalui suatu hal dengan mudah, tak rumit seperti yang saya alami. Mungkin letak kesalahannya ada dalam pola pikir saya yang cenderung tak mudah puas dan serba perfeksionis. Tapi percaya tak percaya, terkadang saya menikmati proses kerumitan dan penentuan jalan keluar tersebut. Seperti berjalan diantara labirin berwarna biru muda, saya menikmati setiap haru yang tercipta sebelum akhirnya mendapatkan rasa puas yang tak terkira. Baca deh Quote favorit saya di FB “Excellence is to do a common thing in an uncommon way” Lan ajeng telasang #kapakjreeng!! #MenatapNanarKeKomporHock

Apa kalian pernah galau gara-gara skripsay?

Tentunya pernah ya. Bahkan ada yang sangat menikmati periode kegalauan ini sampai menelorkan sebuah buku untuk curhatnya yang terselubung. Ada juga menuangkan kegalauan ini dalam bentuk tak berhubungan dengan skripsaynya untuk beberapa saat. Ibaratnya di pending dulu lah. Nah, ini sempat saya lakukan beberapa waktu lalu, hingga membuat saya insomnia dan phobia ga jelas. Bukan karena dikejar pembimbing tapi lebih ke perasaan mengganjal dan merasa berdosa telah menyia-nyiakan waktu yang sudah disusun sesuai dengan porsinya. Saya mengingkari nya dengan melakukan beberapa kegiatan. Duh, skripsayPhobia bikin hidup ringan, menerawang, kegantung, dan hampa.. *kriuuk* #miripJudulLaguYakh

Dengan iming-iming tiket liburan, Lepas kangen, hingga ketenangan lahir batin di jagat raya saya berusaha menyelesaikan bagian per bagian dari skripsay ini. Perlahan namun pasti, dengan dukungan dari banyak orang akhirnya saya bisa menolong diri saya sendiri. meyakinkan diri bahwa semua bisa terselesaikan dengan baik, dan akan indah pada waktunya #eaaa

Senin lalu (12/06/2012), akhirnya terkumpul sudah skripsi ini. Lega dan ternyata makin degdegan juga… Setelah galau memulai, mengerjakan, cari responden, olah data, hingga akhirnya galau menunggu jadwal ujian keluar… duh…smeoga ini buka kutukan seingat saya dari jaman dulu saya ga pernah gantung orang deh #eh #macacik *kamplong!*

Sudah lama saya ingin mencari pelarian untuk mendapatkan ketenangan, untuk berbagi perasaan jenuh dan mengganjal ini. Mungkin ngeblog, berkicau, baca buku, ngobrol dengan teman jadi pelarian yang pas! 😉  Sudah saatnya mengganggap ini semua bukan suatu kewajiban yang memberatkan, bukan siksaan kebebasan, bukan tekanan sosial dan psikis. Skripsay adalah sebagian dari iman, dari kekuatan kita mengendalikan pikiran dan nafsu untuk selalu fokus pada satu tujuan. Berusaha untuk tidak menghindar dan berani menjalani apapun hasil akhirnya, yang terpenting ya kita harus usaha bukan? (jawab : BUkaaaaaaaan) #seledep!

Pesan moral : yah, jika seperti ini sudah sepantasnya sebagai generasi muda yang berakhlak mulia untuk tidak menanyakan pertanyaan sensitif kepada teman-teman yang sedang menyekripsaykan dirinya semisal nanya : ” Hai apa kabar skripsinya?” atau “kapan wisuda?” itu akan #njleeb banget dan bisa saja terbawa hingga ke mimpi.

Lalu berapa orang yang sudah pernah mimpi dikejar pembimbing? disidang skripsay oleh seluruh penguji killer? atau ada yang pernah mimpi dikejar toga tanpa kepala?

Advertisements