Tags

Yaph, semua memang butuh perjuangan, pengorbanan dan sedikit drama kolosal. Demikan juga dengan proses keberangkatanku kali ini ke ibu kota. Mulai dari galau perpindahan jadwal kuliah hingga tragedi pembatalaan beli tiket. Tapi syukur aja deh, akhirnya jadi juga berangkat, hahahaha makasi ya kriwil :*

Tak ingin seperti kejadian di akhir tahun lalu, KETINGGALAN PESAWAT sayapun memilih untuk datang lebih awal ke bandara. Diantar oleh @xtha_lita jam 8 pas ngepas saya cuss juga dan buruburu check in untuk penerbangan jam 23.20 Wita. (ya belom buka lah yaaa neng) akhirnya menggelandang bentar sambil galau masalah bagasi hwekekeke…absurd!!

Ternyata dalam penerbangan kali pesawatnya delay dankami harus menunggu 30 menit lagi. Duh, padahal uda ag sabar nih mau melepas kangen eh pake delay alay segala! Niatnya mamarah-marah tapi ga jadi, jujur untuk alasan keselamatan ga apa-apa deh delay, biar telat asal selamat *ngomong dalam hati

Ini pertama kali saya naik armada air asia, hahaha…maklum semenjak LDRan atau bepergian untuk urusan pribadi biaya perjalanan harus ditekan seminimal mungkin termasuk pintar-pintar beli tiket promo. Ada banyak adegan konyol disini mulai saat beli tiketnya yang ‘heboh’ saat bayar, gambreng pas check in, galau soal bagasi hahaha..tapi semuanya bikin pengalaman saya nambah (setidaknya mengurangi jadi anak manja)

30 menit mengisi waktu delay, saya seperti berada dalam BonBin yang penghuninya kelaparan dan hendak makan colokan. Hahaha… dan tepat Jam 23.50 pesawat pun akhirnya berangcuuut jugaa….

A320 menurut saya sangat nyaman (apalagi untuk harga tiketnya yg bersahabat). Saya memilih tempat duduk favorit di dekat jendela agar bisa puas mandangin langit penuh bintang. Saat di ruang tunggu tadi, lekat-lekat saya pandangi satu persatu wajah penumpang sepesawat dengan saya. Demikian pula saat sudah berada dalam pesawat, entahlah mau ga mau mesti nyadar juga jadi agak parno juga sih naik pesawat gara-gara nontonin nonstop berita tentang tragedy sukhoi.

Pas pamitan di rumah, ortu juga sepertinya agak cemas namun tak bias melarang tekad saya untuk berangkat. Demikian pula perubahan jadwal dan kegiatan di Bali yang tiba-tiba berubah dan sepertinya menghalangi saya untuk pergi. Duh, ini bukan firasat (kata saya dalam hati) hanya KEBETULAN.

Tak ada kendala, pesawat take off dengan mulus. Bali malam tampak cantik dengan lampunya yang berkilau dari kejauhan. Wah sudah sepenuh itukah pulau Bali, kilau lampunya hampir bertebaran disetiap titik yang saya amati. Semakin tinggi saya semakin menikmati pemandangan di luar sana. Bintang-bintang bersinar dengan terang. Tapi gumpalan-gumpalan awan tampaknya mulai tak bersahabat dan menimbulkan sedikit guncangan. Ketika lampu kabin dimatikan beberapa saat, saya bisa melihat ada gumpalan awan yang bersinar oleh petir disana. Ada banyak saya mulai ketakutan.

Setelah beberapa kali naik pesawat ini kali kedua saya benar-benar memperhatikan bagaimana awak kabin mendemonstrasikan pedoman keselamatan penerbangan. Dulu ketika pertama kali naik pesawat saat saya masih SMP dan penerbangan kemarin malam saya benar-benar memperhatikannya dengan seksama. Saya lihat orang-orang disekitar saya kebanayak cuek, bahkan ada yang sudah tidur malahan. Duh, setelah melihat demonstrasinya sayapun kembali membaca pedomannya pada buku yang ada di kursi. Saya menghapalkan cara evakuasi di darat atau di air dengan seksama.

Beberapa menit kemudian, ada pengumuman bahwa cuaca sedang tidak baik dan larangan untuk meninggalkan kursi atau pergi ke toilet. Jantung makin deg-degan, berungkali saya mengucapkan doa dalam hati dan berharap Capt. Indra mampu mengendalikan pesawat dengan sebaik-baiknya. Ga mau panik saya menatap lagi ke luar jendela. Memang malam itu ada banyak bintang yang bersinar di langit atas sana. tapi gerombolan awan ga bosan-bosan menghalangi laju pesawat kami. Terasa ada sedikit gesekan, bergelombang dan membuat telinga berdenging. Penumpang di sebelahs aya masih lelap sambil memeluk kekasihnya, demikian pula diseberang sana ada anak kecil yang tidur di pangkuan ibunya. Dari belakang ada penumpang yang mengejutkan saya “mbak takut ya? saya juga” ungkapnya setengah berbisik. Saya hanya tersenyum dan lebih memilih untuk melempar pandangan ke luar sana. Ternyata langit yang saya kagumi malam ini tampak menyeramkan, membuat saya takut.

Suasana kembali nyaman saat pramugari yang cantik dan ramah menawarkan makanan pada saya (karena makanannya bayar, saya menolak dengan halus sambil mengelus domfeet). penerbangan 1 jam 40 menit terasa lama sekali. mungkin terasa lama bagi saya yang terbang dengan pikiran menerawang. saya mencoba untuk berpikir positif, ah *all iz well*

Pesawat landing juga, piuh…. sudah lega hati ini. Terimakasih Capt. Indra dan seluruh kru nya yang telah menerbangkan si gagah dan sampai dengan selamat :’)

Dari penerbangan kali ini saya ingin berbagi cerita, ketakutan itu bisa dikendalikan kok asal kita tahu caranya dan mau melaksanakannya. Ingat berdoa, patuhi peraturan keselamatan penerbangan, ingat matikan HP atau alat elektronik lainnya, perhatikan pedoman keselamatan penerbangan yang dipraktikkan oleh pramugari/pramugara, percaya bahwa seluruh kru pesawat bisa membawa kita dengan selamat, dan yang terakhir buat dirimu senyaman mungkind an jauhkan pikiran-pikiran yang membuatmu cemas. 😉

Sampai di Soekarno hatta, terminal 3 tampak sepi. Saya mulai kebingungan…duh bagaimana ini, kriwil tak juga mengangkat telpon saya. Berkelilings ebentar ternyata saya melihatnya sedang ketiduran di kursi sambil memeluk ransel. kamu ganteng sekali :’)

Naik shuttle bus kami pindah ke terminal 1 untuk cari DAMRI. duh, sial ternayta DAMRI sudah taka da lagi. Jadilah malam itu saya kemah di bandara. Tiduran di atas kursi cukup bikin punggung kriuk kriuk…apalagi pakek peluk barang-barang segambreng….tapi pengalaman seru ini akan terus saya kenang. Banyak hal saya pelajari, termasuk bagaimana kerasnya orang-orang berjuang mempertahankan hidup bekerja dini hari seperti membersihkan plafon terminal atau mengangkut kue…

tapi makasi juga sih jadi bisa ngobrol panjang lebar sama kriwil sampe pagi :’) sebelum di berangkat kerja lagi…. #pacarandiairport (berasa rangga cinta aja deh *uhuk*)

aaaak….pak captain nanti kalo saya pulang ke bali anterin saya dengan selamat lagi yaaa…. 🙂 *kecups

Advertisements