Tags

, , ,

“Duh…ga unyu ahh… ga ada henti-hentinya bikin kegalauan. labil banget dech sok sibuk. Rezee loh :p !” (ekspresi setelah baca berita Penolakan pembacaan Suara Anak Indonesia)


*ketika Suara Anak Indonesia yang telah perjuangkan, di sia-siakan!

 

Ya dan ini bukan yang pertama kalinya…tahun lalu juga sama. miris sekali bangsa ini, bagaimana menciptakan generasi muda yang merdeka untuk memperjuangkan hak-haknya..? hanya 5 menit saja tidak mau di dengarkan, pantas bila masih ada raungan anak-anak di Indonesia yang menjerit minta sekolah, minta diberikan kehidupan yang layak, minta diperlakukan adil tapi tak juga mendapat gubrisan!! Hilangkah nurani anda pak? Atau, bermasalahkah telinga anda? Mari ke THT. Periksakan hati anda!

Tahun ini Suara Anak Indonesia kembali mendapatkan perlakuan yang tak pantas. “Dilarang dibacakan di depan BAPAK PRESIDEN! sosok yang dianggap layak menjadi tempat mengadu bagi seluruh anak Indonesia. Sosok yang dijadikan panutan laksana seorang ayah yang menyayangi anak-anaknya agar dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Tapi harapan tak seindah kenyataan. Lihat saja di perayaan Hari Anak Tahun ini, 5 menit saja tidak ada waktu. Sesibuk itukah seorang ayah sehingga tak bisa mendengarkan kegalauan anak-anaknya? Bahkan di hari yang paling dinantipun sang anak tetap tak bisa bersandar pada ayahnya hanya untuk sekedar menyampaikan kata-kata pengharapannya di ahri yang amat special baginya.

Jika mengingat memori beberapa tahun lalu, tepat di tahun 2005 saat saya mengikuti Konggres Anak Indonesia V aah… betapa semangatnya kami berdiskusi. Setelah terpilih menjadi salah satu Duta Anak Nasional, saya dan 9 rekan lainnya kembali memantapkan langkah untuk menyiapkan diri menyempurnakan Suara Anak yang telah dirumuskan siang malam oleh ratusan teman peserta kongres lainnya tanpa kenal lelah. Tak ada orang dewasa, hanya anak-anak luar biasa, yang terbiasa hidup sebagai anak-anak dan merasakan bagaimana kehidupan anak-anak di Indonesia. Kami berjuang tanpa bayaran, tanpa pemenangan suatu kelompok tertentu, tanpa haus kekuasaan, tapi perjuangan kami hanya bertujuan untuk menciptakan kehidupan yang layak untuk anak-anak, untuk saudara-saudara kami, tunas bangsa Indonesia. Dan di Tahun 2005 Suara Anak Indonesia masih bisa dibacakan setelah melewati perjuangan yang tak ringan.

Dan saya yakin ditahun-tahun berikutnya tantangan untuk menyusun Suara Anakpun pasti tak kalah beratnya. Menyaring permasalahan daerah, menentukan prioritas permasalahan, menyusun solusi dan harapan, hingga titik koma yang tak dibiarkan cacat sedikitpun. Hal ini dilakukan untuk kehidupan anak yang lebih baik di INDONESIA. Negara yang amat dicintai oleh anak-anaknya. Negara yang selalu ingin diharumkan namanya oleh anak-anak bangsa.

Tahun lalu, setelah berkonggres di Bangka Belitung pembatalan dilaksanakan beberapa menit sebelum suara anak dibacakan. Tahun ini, tiada perubahan! Masih tetap tak bisa dibacakan juga. Masih tetap kah Indonesia akan terus membungkam suara anak? Kenapa? Apa anak-anak tidak boleh bersuara? Apa gunanya UU 23/2002 tentang Perlindungan Anak mengenai pemberian kesempatan seluasnya untuk menyampaikan pendapat? Apa gunanya Indonesia jadi Negara hukum? Melindungi warganya untuk berpendapat saja masih sangat mengecewakan. Seyogyanya Negara hukum ya…tolong lindungi donk anak-anak sebagai  warga Negara untuk bebas berpendapat, menyampaikan gagasan baik secara lisan maupun tulisan. Toh kan hal ini dilindungi peraturan perundang-undangan di Indonesia baik didalam batang tubuh UUD 1945 pasal 28, maupun diatur secara jelas dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2005 mengenai jaminan hak-hak sipil dan politik, dimana poin-poin hak yang harus dilindungi oleh Negara mengenai hak berpendapat, hak berserikat, hak memilih dan dipilih, hak sama dihadapan hukum dan pemerintahan, hak mendapatkan keadilan, dll. Atau itu cuma sekedar peraturan yang ompong tanpa realisasi yang sesuai dengan kata-kata di dalamnya? Meh.. miris! Sekali lagi SAYA KECEWA. Cobalah pemerintah lebih bijaksana dengan lebih memperhatikan anak tentu saja masih ada harapan yang lebih baik untuk bangsa ini kedepannya. Pemerintah, masyarakat dan seluruh elemen bangsa ini hendaknya bersama-sama merangkul anak Indonesia yang nantinya akan melanjutkan perjuangan cita-cita bangsa. Indahnya jika mereka bisa hidup dengan layak di Negara yang SANGAT MEREKA CINTAI INI. mereka sangat mencintai INDONESIA dan jangan sampai membuat hal itu berubah!!

Anak-anak bukan robot, karena mereka punya hati, bahkan lebih tulus dan lebih bersih!
Untuk adik-adik ku di seluruh Indonesia, khususnya perumus Suara Anak di konggres Anak Indonesia X Tahun 2011 tetaplah berjuang!

kami selalu mendukungmu!

ANAK INDONESIA LUAR BIASA

ANAK INDONESIA…MERDEKA! YAA!!  :’)

(Kadek Ridoi Rahayu, Duta Anak Nasional 2005 KAI V, Keluarga Besar Konggres Anak indonesia)

Advertisements