Salah satu faktor yang berpengaruh signifikan terhadap perkembangan perilaku reproduksi remaja adalah komunikasi global dan kecanggihan teknologi. Di zaman yang serba canggih ini, akses internet hampir menjadi kebutuhan pokok setiap orang, termasuk para remaja. Remaja dalam masa perkembangannya cenderung memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Kelompok ini kerap kali mencari jawaban atas semua pertanyaan yang ada dalam kehidupan mereka. Namun, tidak semua remaja mendiskusikan jawaban atas pertanyaannya itu dengan remaja lain. Ada sekelompok remaja yang mencari jawaban pertanyaan itu secara individual. Melalui internet salah satunya.
Saat ini pengguna internet di Indonesia mengalami kenaikan yang sangat signifikan. Berdasarkan data Kementerian Komunikasi dan Informatika RI, pengguna internet hampir di dunia mendekati 200 juta orang pada 1998. Angka ini kemudian meningkat tajam menjadi 1,7 miliar orang pada 2010. Sementara hari ini, pengguna internet di Indonesia diperkirakan mencapai 30 juta orang atau sekitar 12,5 persen populasi penduduk Indonesia. Sebanyak 64 persen berasal dari kalangan remaja yang berusia 15 hingga 19 tahun.
Masa remaja adalah masa-masa yang penuh dengan gejolak (strum and drang). Lingkungan sosial remaja juga ditandai dengan perubahan sosial yang cepat, khususnya di kota-kota besar dan daerah-daerah yang sudah terjangkau sarana dan prasarana komunikasi dan perhubungan. Faktor ini secara tidak langsung mengakibatkan kesimpangsiuran norma. Kondisi intern dan ekstern yang sama-sama bergejolak inilah yang menyebabkan masa remaja memang lebih rawan daripada tahap-tahap lain dalam perkembangan jiwa manusia.
Untuk mengurangi benturan ini serta memberikan kesempatan kepada remaja untuk mengembangkan dirinya secara optimal, perlu diciptakan kondisi lingkungan yang stabil mungkin. Lingkungan harus dimulai dalam lingkup keluarga dan berlanjut ke dalam kehidupan sosial. Untuk itulah, perlu dilakukan pendekatan secara koherensif dan komprehensif yang bisa membawa dampak positif untuk para remaja.
Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah memberikan informasi tentang kesehatan reproduksi remaja melalui jejaring sosial. Misalnya dengan membuat akun tentang kesehatan reproduksi di twitter, facebook, linkedin, koprol atau myspace. Cara ini disebut juga dengan inseminasi (internet sehat melalui norma reproduksi). Pendekatan inseminasi ini sebenarnya sudah dilaksanakan oleh beberapa LSM atau yayasan. Mereka mendekati remaja dengan cara berjejaring secara virtual.
Jejaring sosial adalah suatu struktur sosial yang dibentuk dari simpul-simpul (umumnya adalah individu atau organisasi) yang diikat dengan satu atau lebih tipe relasi spesifik seperti nilai, visi, ide, teman, keturunan, dan lain sebagainya. Jejaring sosial sebagai struktur sosial yang terdiri dari elemen-elemen individual atau organisasi. Jejaring ini menunjukan jalan dimana mereka berhubungan karena kesamaan sosialitas, mulai dari mereka yang dikenal sehari-hari sampai dengan keluarga (J.A. Barnes.1954).
Dengan adanya jejaring sosial yang memberi informasi tentang kesehatan reproduksi diharapkan penyebaran informasi ini kepada remaja menjadi semakin luas. Sebab tujuan utama situs jejaring sosial itu adalah untuk memperluas hubungan sosial, untuk kebutuhan konsumen atau pemakai, menekankan pada sisi sosial atau eksternal, serta lebih diutamakan sisi emosionalnya. Maka sejalan dengan tujuan itu, alangkah bijaksananya jika kita bisa menggunakan jejaring sosial sesuai dengan tujuannya.
Misalnya yang telah dilakukan oleh Kisara (Kita Sayang Remaja). Kisara merupakan sebuah yayasan (LSM) yang peduli dengan permasalahan remaja dengan memberikan pendampingan sebaya untuk pemberian informasi dan konseling. Lembaga ini juga peduli terhadap maraknya kejadian permasalahan kesehatan reproduksi remaja, seperti hubungan seksual pranikah, kehamilan remaja yang tidak diinginkan, infeksi menular seksual, HIV dan AIDS, termasuk juga penyalahgunaan narkotika. Kisara saat ini sudah memiliki 1.100 anggota di akun Facebooknya. Selain memperbaharui informasi tentang kesehatan reproduksi kesehatan remaja Kisara juga menghadirkan ruang untuk berdiskusi dalam discussions board. Dalam ruang diskusi ini dibuka kesempatan untuk para remaja yang ingin berdiskusi seputaran pemasalahan kesehatan reproduksi dan juga hal-hal yang berkaitan dengan remaja.
Dampak dari adanya situs jejaring sosial mungkin lebih banyak dirasakan oleh kalangan remaja, karena sebagian besar pengguna jejaring sosial adalah dari kalangan remaja pada usia sekolah. Alasan digunakannya sistem INSEMINASI ini adalah karena sangat mudah menjadi anggota dari situs jejaring sosial. Tidak butuh waktu lama akan menjadi kebiasaan untuk mengakses dan membuka situs-situs jejaring sosial tersebut, dan berinteraksi secara pasif di dalamnya. Kemudahan terhadap akses teknologi itu juga sudah sangat didukung dengan perkembangan teknologi yang semakin canggih juga, telepon seluler yang dulunya hanya berfungsi sebagai alat penerima dan pemanggil jarak jauh, kini dapat digunakan untuk mengakses internet dan situs jejaring sosial. Jadi para remaja tidak perlu lagi ke warnet untuk mengakses situs pertemanan, melainkan dapat mengaksesnya langsung di telepon seluler.
Berdasarkan hasil riset Yahoo di Indonesia yang bekerja sama dengan Taylor Nelson Sofres pada tahun 2009, sebaran terbesar pengguna internet berada dalam kisaran usia 15-19 tahun yakni sebesar 64 persen. Riset itu dilakukan melalui survei terhadap 2.000 responden. Sebanyak 53 persen dari kalangan remaja itu mengakses internet melalui warnet, sementara sebanyak 19 persen mengakses via telepon seluler. Sebagai gambaran, Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia pada 2009 menyebutkan, pengguna internet di Indonesia diperkirakan mencapai 25 juta orang. Pertumbuhan pertahun rata-rata 25 persen. Riset Nielsen juga mengungkapkan, pengguna Facebook pada 2009 di Indonesia meningkat 700 persen dibanding pada tahun 2008. Sementara pada periode tahun yang sama, pengguna Twitter tahun 2009 meningkat 3.700 persen. Sebagian besar pengguna berusia 15-39 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa memang benar adanya pengguna situs jejaring sosial adalah dari kalangan remaja.
Alangkah baiknya jika dengan adanya peningkatan pengguna internet khususnya jejaring sosial ini pun dbarengi dengan penggunaan jejaring sosial untuk menyebarkan informasi kesehatan reproduksi yang beguna bagi remaja dengan cara yang mudah diakses. Tidak selamanya jejaring sosial membawa dampak buruk untuk remaja, dan sekarang tergantung bagaimana kita memanfaatkan jejaring sosial tersebut. Salam Sehat dan Bersemangat!

Advertisements