Perjalanan terakhir yang saya lalui bersama saudara-saudara saya di kota jogja. Setelah lelah berkeliling jogja elektronik centre, kami memutuskan untuk melangkahkan kaki selanjutnya menuju malioboro. Beli oleh-oleh rencananya,,tapi ternyata pikiran saya masih saya tersangkut pada roda dan jeruji si manis onthel.
Oke, cerita yang akan saya bagi kala ini adalah mengenai seorang pembaca puisi jalanan dg puisi yang konyol di dengar orang tapi sangat menarik perhatian saya.
Namanya simon situmorang, lelaki paruh baya yang berjalan dengan kursi roda. Agak risih juga saat ia mendekati saya yg duduk di depan monumen serangan umum 1 maret 1949 bersama rio, yusak, dan beberapa rekan lain (kami masih saja menunggu kaum lelaki: edi,qodri,mashadi,ricky yg masih kesetanan belanja,,hahaha) Lelaki itu santun sekali bertutur kata, persis seperti saudara ku di desa sodo gunung kidul sana, yah walaupun saya sedikit terkejut setelah tahu ia berasal dr medan, tipe individu yg keras namun telah disinergiskan dengan kelembutan atmosfer jogjakarta. kata-katanya sopan, dengan ekspresi datar tanpa giratan minta dikasihani.
Awalnya ia membawakan dengan apik sebuah puisi yg berjudul “siapa aku” karya maruli simbolon. Tak terlalu banyak gerak, ekspresinya tak berlebihan, tapi intonasinya benar-benar membuat bulu kuduk merinding. Pembacaan yg sungguh indah!! Saya mulai tertarik, jadi teringat kembali saat-saat membaca puisi dulu. membuat saya rindu akan menjamah kata-kata beruntai itu,,,
Setelah ia mengakhiri puisi pertamanya, saya pun berujar, “mas bisa tambah 1 puisi lagi?”…tanpa menyahutpun ia langsung saja membacakan 1 puisi lagi, judulnya
“kupanggil kau mawar” buah karyanya sendiri.
Dan saya hanya diam mendengarnya, berusaha mengecilkan deru napas dalam hidung yg pilek ini agar pembacaan itu tak terusik sedikitpun.,,,lega,,benar-benar lega mendengar suara lantang yang mengaduk emosi itu. Sampai berakhirpun diakhiri dengan sangat santun, benar-benar sastrawan ‘jalanan’ yang luar biasa.
Ia menyebut dirinya pekerja seni ‘jalanan’ ditekankan kembali hanya sebagai pekerja seni, tapi saya memberanikan diri menyebutnya sastrawan. Alasan utama untuk sebutan itu, ya karena ia akan berkeliling dari pagi sampai petang bahkan malam diseputaran perempatan monumen itu. Lumayan ramai, tapi mesti berkeliling dengan sabar krena tak semua orang berkenan meluangkan waktu untuk mendengar puisi yang dianggap ‘konyol’ darinya.
Seputaran kehidupan pribadinya saya dapatkan setelah berbincang sejenak usai ‘pementasan sederhananya kala itu. Sehari-harinya ia tinggal di rumah kost bersama keluarga. Ia memiliki seorang Anak yang masih duduk di kelas 1 SD. Anaknya sudah dididik untuk suka puisi dan sastra agar nantinya bisa ikut menikmati kenikmatan bersastra seperti yang dilakukan ayahnya.
Ketika ditanya kapan mulai tertarik dengan dunia seni puisi, ia bercerita singkat saat bergabung dalam teater Tantra di tahun 1991 sudah di Jogja, sajak Rindrus Siregar pamannya sastrawan. Beliau mengungkapkan kesenangannya membaca puisi karena puisi bisa merangkul semuanya salah satunya seperti kata-kata yang dibacakan tadi, ada kepedihan suka duka semua ada dalam puisi. Sastrawan idolanya adalah Sutardji calzoum bahri, karena dia menjabarkan puisi tegas kalau yang lain cengeng apa yg dilontarkan itu yg dirasakan.

Advertisements