Tags

, , , , ,


Kami dilantik pada tanggal 29 Desember tahun 2006 di aula DisDikpora d/h Dinas Pendidikan Provinsi Bali. Saat itu saya merasa kebingungan, karena belum ada struktur organisasi yang terbentuk. Hingga pada akhirnya sebelum pelantikan, kami berkumpul berbentuk lingkaran dan melakukan sedikit musyawarah memilih perangkat organisasi. Dan hasilnya, terpilih lah pengurus inti dengan komposisi : saya terpilih sebagai ketua, wahyu raditya sebagai wakil, christina sebagai sekretaris, dan wisnu arya wardhana sebagai bendahara. Staf komisi diisi oleh rekan-rekan lain yang berkesempatan hadir pada saat itu. Bahkan ada yang belum pernah saya temui sebelumnya. Belum ada rekrutmen yang jelas saat itu. Tapi kami tetap percaya, bahwa Tuhan memiliki rencana besar sehingga mempertemukan dan mempersatukan kami.
Bingung saya, saat pertama kali akan menyusun program kerja. Berbeda dengan OSIS yang saya pimpin kala itu, atau Paguyuban teater yang saya komandoi. Tentu saja berbeda dari segi manapun. Tapi satu hal yang menjadi pegangan saya adalah, Forum ini dibentuk oleh anak, diorganisir oleh anak dan diperjuangkan untuk anak juga. Dan setelah membaca banyak literatur tentang Undang-Undang Perlindungan Anak, Konvensi Hak Anak, serta bacaan lain yang berhubungan dengan anak. Setiap nasehat dari Ibu Masni dan Ibu kami lainnya dari Lembaga Perlindungan Anakpun tak pernah terlewatkan. Hingga pada akhirnya program kerja tahunan tersusun apik. Program itulah yang akan menuntun hingga langkah selanjutnya.
Tugas kita bukanlah untuk berhasil, tugas kita adalah mencoba karena di dalam mencoba itulah kita menemukan dan belajar membangun kesempatan untuk berhasil. Dalam berjalannya roda organisasi ini, banyak hal yang masih belum sesuai dengan harapan. Karena keterbatasan dana, sumber daya manusia. Harus saya sadari jika berorganisasi dan berkumpul bersama anak-anak berprestasi harus siap konsekuensi bahwa mereka harus mengutamakan prestasi di jalur mereka juga. Ada yang dalam bidang olimpiade Matematika, Biologi, Kimia ada juga dalam bidang entertainment jadi penyanyi presenter dan lain sebagainya. Singkat kata hanya saya sajalah yang menganggur tanpa kesibukan, (kecuali saat tertentu bergulat dengan naskah pidato dan naskah puisi atau sekedar memukul bola di lapangan kriket).
Posisi saat itu saya gambarkan ibarat mengisi tempayan kosong. Hendak terisi dengan cairan apakah? Berwarna apa? Merah? Putih? Semua Warna? Atau Abu-abu? Apakah berasa? Atau hanya akan tawar? Bagaimana dengan mengisinya? Apakah dituangkan? Atau secara perlahan diisi setitik demi setitik. Banyak sekali pertanyaan yang menghampiri benak. Tapi melihat kesempatan bahwa ini adalah ’Show Perdana’ forum kami, jadi tak perlu lagi mencari patokan dimanapun. Karena kamilah yang akan membuat patokan itu sendiri.
Diawali dengan mengadakan audiensi dengan Gubernur Bali saat itu, Bapak Dewa Made Berata. Difasilitasi oleh Biro Pemberdayaan Perempuan (sekaranag BP3A) dan Lembaga Perlindungan Anak provinsi Bali, kami bisa bertemu langsung dengan bapak gubernur. Di depan beliau saya selaku perwakilan forum mempresentasikan seluruh program kerja yang akan kami laksanakan. Beliau nampak mengangguk-angguk bahkan memberikan tepuk tangan yang hangat ketika saya mengakhiri presentasi tersebut. Satu semangat saya, bahwa forum ini terbentuk sebagai langkah konkret bahwa kami juga anak-anak Bali yang peduli terhadap anak Bali lainnya.
Kegiatan utama yang kami lakukan adalah sosialisasi. Sosialisasi UUPA, dan tentu saja sosialisasi FADBALI. Setiap hari sabtu sore atau minggu pagi, kami meluangkan waktu untuk bertemu dan mencari keramaian untuk menyebarkan brosur. Biasanya di catur muka denpasar, lapangan puputan hingga pura jagatnatha, dan seputaran jalan yudistira. Selain itu kami juga melakukan sosilisasi di SMA atau SMP walaupun hanya sebatas penyebaran brosur. Suka duka tentu saja kami rasakan. Mulai dari pandangan aneh karena menganggap kami kurang kerjaan, penolakan, usiran, bahkan belum jauh kami melangkah brosur-brosur itu sudah terbang sebagai pesawat kertas. Menyedihkan memang, tapi terbayar jika kami bersenda gurau bersama. Sekedar berfoto ria dengan pose-pose aneh dan lucu. Khas anak-anak.

Kegiatan persembahyangan kerap kali lakukan sebulan paling tidak 1 kali. Persembahyangan ini salah satu cara kami untuk mempererat persaudaraan kami. Karena kami mayoritas beragama Hindu, maka kami pun bersembahyang ke pura. Akan tetapi kami tetap mengormati teman-teman yang beragama lain, misalnya dengan cara memberikan ucapan selamat pada hari besar keagamaan. Atau bertoleransi jika ada yang sedang melakukan ibadah.
Kegiatan pengisian personal kami lakukan dengan mengikuti Lembaga Perlindungan Anak saat memberikan sosialisasi UUPA serta saat menjadi narasumber di radio. Misalnya saja saat di RRI, FADBALI diundang menjadi pendengar. Awalnya kami hanya menjadi pendengar dan pada akhirnya kamipun menerima beberapa tawaran untuk berbicara mengenai anak di radio-radio swasta diseputaran kota Denpasar. Tidak sering, tapi lumayanlah untuk perkenalan Forum kami.
Selain kegiatan sosialisasi dan persembahyangan kami juga melaksanakan kegiatan berbagi bersama. Awalnya kami laksanakan di Lembaga Pemasyarakatan Anak, Karangasem. Disana kami bergembira bersama, sosialisasi UUPA dan menuliskan harapan mereka di ’kain harapan’. Kain putih sepanjang 3 meter. Senang rasanya bisa bertemu teman-teman di lapas anak. Selain itu kami juga memotivasi teman-teman di Munti Gunung untuk tetap bersekolah dan tidak turun ke jalan. (Daerah ini kerap disangkutpautkan sebagai asal gepeng di kota Denpasar). Seru sekali, karena kami dihadapkan pada ratusan anak. Kesempatan berbicara di depan mereka membuat saya lebih bersemangat lagi untuk menyebarkan virus semangat ini kesemua pelosok. Dan tentu saja, pengalaman ini tidak akan kami dapatkan jika tidak bergabung di Forum Anak.

Advertisements