Berisi bukan berarti tak kosong. Nama mereka masih terpampang jelas di papan kepengurusan, akan tetapi raga mereka tak penah memandang papan itu lagi, karena mereka tak pernah datang untuk melihatnya.Tapi saya jadi teringat sebuah kalimat” First rule of leadership: everything is your fault. Peraturan nomor satu dalam kepemimpinan: semua-muanya adalah salah anda si pemimpin (A Bug’s Life Movie). Emm…dan tentunya saya tidak akan 100% menyalahkan diri sendiri, tidak akan menyalahkan keadaan, waktu, nasib dan lain-lain. Tapi ternyata harus ada yang dijadikan kambing hitam dalam hal ini. Dan saya telah memilihnya, CARA BERKOMUNIKASI. Karena tak seorangpun dari kami merupakan ahli nujum atau dukun, jadilah kami harus berbicara terbuka satu sama lain. Lebih terbuka, mungkin itu akan menjadi kunci untuk pintu selanjutnya.

Dalam tuangan kali ini, saya akan mencoba memberikan sebuah cerita yang menurut saya menarik dan mungkin kita bisa pelajari makna yang terkandung di dalamnya.

“SEORANG TUA YANG BIJAK DITANYA OLEH TAMUNYA”

Tamu :”Sebenarnya apa itu perasaan ‘bosan’, pak tua?”

Pak Tua :
“Bosan adalah keadaan dimana pikiran menginginkan perubahan, mendambakan sesuatu yang baru, dan menginginkan berhentinya rutinitas hidup dan keadaan yang monoton dari waktu ke waktu.”

Tamu :”Kenapa kita merasa bosan?”

Pak Tua :”Karena kita tidak pernah merasa puas dengan apa yang kita miliki.”

Tamu :”Bagaimana menghilangkan kebosanan?”

Pak Tua : “Hanya ada satu cara, nikmatilah kebosanan itu, maka kita pun akan terbebas darinya.”

Tamu :”Bagaimana mungkin bisa menikmati kebosanan?”

Pak Tua: “Bertanyalah pada dirimu sendiri: mengapa kamu tidak pernah bosan makan nasi yang sama rasanya setiap hari?”

Tamu :”Karena kita makan nasi dengan lauk dan sayur yang berbeda, Pak Tua.”

Pak Tua : “Benar sekali, anakku, tambahkan sesuatu yang baru dalam rutinitasmu maka kebosanan pun akan hilang.”

Tamu: “Bagaimana menambahkan hal baru dalam rutinitas?”

Pak Tua : “Ubahlah caramu melakukan rutinitas itu. Kalau biasanya menulis sambil duduk, cobalah menulis sambil jongkok atau berbaring. Kalau biasanya membaca di kursi, cobalah membaca sambil berjalan-jalan atau meloncat-loncat. Kalau biasanya menelpon dengan tangan kanan, cobalah dengan tangan kiri atau dengan kaki kalau bisa. Dan seterusnya.”

Lalu Tamu itu pun pergi.

Beberapa hari kemudian Tamu itu mengunjungi Pak Tua lagi.

Tamu : “Pak tua, saya sudah melakukan apa yang Anda sarankan, kenapa saya masih merasa bosan juga?”

Pak Tua :”Coba lakukan sesuatu yang bersifat kekanak-kanakan.”

Tamu :”Contohnya? ”

Pak Tua :”Mainkan permainan yang paling kamu senangi di waktu kecil dulu.”

Lalu Tamu itu pun pergi.

Beberapa minggu kemudian, Tamu itu datang lagi ke rumah Pak Tua.

Tamu :

“Pak tua, saya melakukan apa yang Anda sarankan. Di setiap waktu senggang saya bermain
sepuas-puasnya semua permainan anak-anak yang saya senangi dulu. Dan keajaibanpun terjadi.
Sampai sekarang saya tidak pernah merasa bosan lagi, meskipun di saat saya melakukan hal-hal yang dulu pernah saya anggap membosankan. Kenapa bisa demikian, Pak Tua?”

Sambil tersenyum Pak Tua berkata:

“Karena segala sesuatu sebenarnya berasal dari pikiranmu sendiri, anakku. Kebosanan itu pun berasal dari pikiranmu yang berpikir tentang kebosanan. Saya menyuruhmu bermain seperti anak kecil agar pikiranmu menjadi ceria. Sekarang kamu tidak merasa bosan lagi karena pikiranmu tentang keceriaan berhasil mengalahkan pikiranmu tentang kebosanan. Segala sesuatu berasal dari pikiran. Berpikir bosan menyebabkan kau bosan. Berpikir ceria menjadikan kamu ceria.”

Sumber cerita : nasehat bijak

Dalam cerita diatas, saya menggarisbawahi tiga hal, yaitu Kebosanan, dan Tergantung pikiranmu.
1. Kebosanan
Mungkin saya pernah merasa bosan memikirkan jalan keluar agar teman-teman bisa memberikan sedikit saja waktunya untuk mengembangkan FADBALI. Atau saya juga pernah berpikir bahwa teman-temanlah yang mulai bosan. Mungkin sibuk dengan pekerjaan dan kegiatan sendiri, jenuh dengan kegiatan di forum anak, atau malah sudah jenuh dengan kepemimpinan saya (yang memang sudah hampir memasuki tahun ketiga). Mereka mulai menghialnag satu persatu dengan alasana masing-masing. Ya….dan untuk satu periode waktu ini, kami tak banyak bergejolak, hanya riak-riak kecil saja saat kami mempunyai waktu senggang. Kala inipun memang momentum yang sangat menguras konsentrasi yaitu “ UAN dan PMDK” mulailah kami kehilangan kebersamaan lagi. Setelah kurnag lebih 6 bulan kami terkonsentrasi pada persiapan bidang pendidikan masing-masing. Tetapi saat UAN berakhirpun kami masih memiliki kesulitan untuk berkumpul karena harus mulai memilih perguruan tinggi untuk melanjtkan studi kami nantinya.
Antara moment yang mengambang ini menyebabkan banyak protes diajukan kepada kepengurusan saya saat itu. Mulai dari usulan pembubaran FAD, aksi mogok, serta rapat terbuka. Dan pada akhirnya kami melaksanakan Resuffle pengurus yang saat itu dilaksanakan mendekati Mimbar Anak Bali II. Resufle ini tidak mengubah struktur secara keseluruhan. Akan tetapi hanya menambahkan point “vopenak volunteer pejuang anak” diantara kepengurusan sebelumnya. Bersyukur kami karena dalam pelaksanaan MAB kami ditemani oleh mereka yang memang memiliki kepedulian dengan dunia anak. Kak yunda (FKG UNMAS), Kak Rastu, Kak Krisna dan Ika (FK UNUD), Indra Darmawan (FT UNUD), yang terakhir bergabung adalah Kartika (IPB) dan Adik Mandhara Brasika (ITB) yang membangkitkan aura FAD yang sempat redup dengan semangat dan kelugasannya, serta semua rekan-rekan yang telah berjasa menjadi saudara kami di FADBALI walau hanya sekejap namun meninggalkan kenangan yang sangat indah. Semoga teman-teman sukses dan tumbuh menjadi insan luar biasa yang teta peduli terhadap dunia anak.

2. Tergantung pikiranmu
Jika kita berpikir kita akan sukses, maka kesuksesan dapat kita raih. Namun jika kita masih merasa terikat oleh ketidakberdayaan, hancur leburlah kta digilas masa. 2008 adalah tahun yang sangat tidak produktif bagi kami. Tanpa kegiatan besar, tapi tetap bergeliat pada dunia anak dengan mengikuti kegiatan LPA. Tapi tahun ini juga merupakan tahun keemasan bagi FADBALI karena mendapatkan kepercayaan sebagai Duta Anak Nasional. Bangga padamu adik-adikku, Wisnu Arya Wardhana (Wakil Gianyar-SMA N 4 DPS), I.A.Upawita Dewi (Wakil Klungkung-SMA N 2 SEMARAPURA), Arya Bayu (Wakil Jembrana- SMA N 1 Melaya). Mulailah kami menanamkan konsep, bahwa semuanya tergantung pikiran. Jika kita percaya akan membawa FADBALI ke arah yang lebih baik, walaupun banyak halangan niscaya semuanya bisa menjadi nyata. Be positive and do the best!!

Advertisements