“Desire is the starting point of all achievement, not a hope, not a wish, but a keen pulsating desire, which transcends everything.” Napoleon Hill.

Keinginan merupakan titik awal dari semua pencapaian, bukan sebuah harapan, bukan sebuah angan-angan, tetapi sebuah keinginan yang bergetar hebat, yang melebihi segalanya. Memang benar hal tersebut. Keinginan yang begitu hebat menguatkan kami untuk segera membangun pondasi Forum Anak Daerah. Walau dengan satu langkah awal yang sangat kecil tentunya, tapi kami memiliki semangat yang lebih panas dari bara api untuk membakar semua keraguan dan ketidakberdayaan. Terpilih sebagai ‘Duta Anak Nasional bidang partisipasi’ memberikan saya suatu bisikan untuk bertanggungjawab mengemban tugas ini dengan sebaik-baiknya.
“Ibu saya ingin Bali juga punya forum anak seperti teman-teman di Jawa Barat. Mereka tidak pernah kebingungan apabila akan mengikuti Kongres. Mereka tidak pernah berkumpul di bawah pohon mangga jika ingin bertukar pikiran. Mereka telah menyiapkan semuanya dengan matang dari daerah mereka sebelum berangkat kongres. Ibu Bantu saya mewujudkan ide gila ini”. Saya pernah mengucapkan keinginan itu kepada ibu saya di LPA BALI. Ibu Nyoman Masni. Ibu yang menelpon saya dan mengatakan akan mengajak saya ke Jakarta naik pesawat Garuda. Ibu yang pada akhirnya mengajarkan saya untuk melihat dunia dari berbagai sisi. Ibu yang tentunya banyak berperan dalam pembentukan karakter saya agar menjadi lebih baik. Kala itu, kami sedang di dalam pesawat pulang dari Konggres Anak Indonesia V th 2005 di Jakarta. Ibu Masni hanya tersenyum menanggapi lelucon saya itu. Tapi entah mengapa saya yakin, dalam senyum tersebut ibu berkata ” Kenapa tidak? ide gilamu akan terwujud jika kamu mau berusaha dan pantang menyerah”, percakapan tanpa dialog itu memberikan saya motivasi untuk menapaki langkah selanjutnya dengan lebih bersemangat.
Forum Anak Daerah Bali pada awalnya terbentuk pada akhir tahun 2006. Sebenarnya Forum ini sudah dicanangkan sejak akhir 2005. Akan tetapi mengingat saat itu belum terkumpul banyak anak serta pengalaman yang masih dirasa kurang, maka diputuskanlah waktu kurang lebih 1 tahun digunakan untuk mengisi personal dengan berbagai macam pengetahuan. Mulai dari pengetahuan tentang dunia anak, kiat berorganisasi dan manajemen, hingga pendekatan personal. Kami saat itu benar-benar mematangkan konsep untuk membentuk suatu wadah forum yang berlandaskan atas dasar keiklasan, semangat dan kebersamaan. Saat itu, saya Aditya saputra dan Dwi ariawan mencoba merancang beberapa batu pijakan agar kedepannya forum ini memiliki semangat juang yang berbeda dari organisasi atau perkumpulan anak lainnya.
Semangat membara kami tak pernah diredupkan sedikitpun oleh berbagai macam angin pengahalang. Keteguhan hati kami dan support dari LPA BALI saat itu merupakan modal utama kami. Kami terus belajar, mengisi diri, dan memutar otak untuk mewujudkan keinginan, membangun FADBALI. Sempat terhambat karena belum ada panduan sama sekali. Tapi saya masih ingat jelas kata-kata ibu Masni saat itu “ Ini adalah organisasi kalian, jadi kalian tidak perlu menunggu patokan dari siapapun tentang jalannya organisasi ini. Selama apa yang kalian rumuskan tidak bertentangan dengan kebenaran dan masih dalam batas kewajaran, ibu akan selalu memberikan dukungan”. Beliau menyemangati saya, ketika saat itu saya mengeluhkan sedikit gundah saya karena belum dapat melakukan banyak hal.

Bulan Juli 2006, seperti mendapatkan adik yang baru lahir, kamipun sangat berbahagia ketika dipertemukan dengan duta Bali yang akan berangkat ke kongres anak ke VI tahun 2006. Langkah semakin mantap apalagi kami telah mendapatkan personil tambahan. Tapi kami masih ragu, akankah mereka akan bertahan sepulang dari kongres, atau mereka akan berlalu dan melupakan semangat kami yang menggebu menunggu kedatangan mereka. Semuanya saya bungkus dalam hati, dengan harapan saya mendapatkan partner ideal untuk melancarkan ‘ide gila’ saya.
Singkatnya apa yang saya takutkan terjadi juga. Setelah acara syukuran karena Christina dan Wahyu Raditya terpilih sebagai Duta Anak Nasional beberapa anak sudah tak terdengar lagi kabarnya. Sedih dan hampir putus asa kala itu. Tapi tetap saya bersyukur pada Tuhan, karena di saat itulah saya memiliki Ibu Masni yang tak pernah berhenti memberi semangat, saudara-saudara dari duta bali 2005 yang selalu setia, serta beberapa adik-adik baru dari duta 2006 yang ternyata menyambut hangat perealisasian ‘ide gila’ ini. Sedikit demi sedikit kami menapaki langkah baru, berkumpul hanya sekedar berdikusi, bagaimana langkah selanjutnya.

(tulisan ini sengaja saya buat bertahap, so….tunggu kelanjutannya ya….)

Advertisements