“Sembahyang bersama…..saat yang paling ditunggu-tunggu,,
selain kami dapat melihat-lihat keadaan di luar desa, kami juga akan mendapatkan penegtahuan tambahan mengenai tradisi persembahyanagn umat hindu di daerah gunung kidul. Seperti apa ya..gimana bentuk bantennya?,,canangnya?? prosesinya?? emm…menyenangkan bisa mendapatkan pengetahuan agama tambahan secara langsung…”

Kegiatan bersembahyang masing-masing umat beragama diatur oleh panitia. Untuk yang beragama Hindu (kebetulan semuanya adalah kontingen Bali) bersembahyang pada saat purnama dan tilem. Kami sempat ingin bersembahyang saat Tilem akan tetapi melihat situasi yang kurang mendukung akhirnya kami bersembahyang keesokan harinya. Esoknya dengan di antar panitia kami bersembahyang di Pura gading. Akan tetapi karena belum dilakukan komunikasi dengan pengempon pura setempat kami tidak bisa sembahyang di dalam pura karena pura dalam keadaan terkunci. Namun karena keinginan kami untuk menghaturkan bakti, kami tetap bersembahyang walaupun dari pinggir jalan. Sempat merasa risih juga karena menjadi tontonan tiap earga yang lewat dan melihat kami memakai bajua dat di depan pura. Tapi rasa itu kami tepis jauh-jauh dan di ganti dengan perasan tulus iklas untuk megahturkan bakti pada Hyang Widhi…

Sembahyang kedua kami lakukan saat purnama. Sebelumnya kami membeli buah-buahan seadanya di pasar Wonosari dan membuat ‘banten’ untuk dihaturkan nantinya. Dan kali ini kami berhasil bertemu dengan pengempon pura, bahkan umat sedharma yang sedang bertugas di DIY. Saat itu kami melaksanakan sembahyang bersama, dan saya sebgai ketua kontingen Bali sempat memberikan sedikit pidato singkat serta berdiskusi dengan saudara-saudara di sana. Di akhir kegiatan persembahyangan kami melaksanakan pereresikan bersama di sekitar lingkungan pura. senang rasanya bisa berdialog, apalagi saya diberi kesempatan untuk mewakili kontingen memeberikn sambutan. emm…senangya bisa berdiskusi dengan saudara-saudara di daerah ini. Banyak bertukar cerita tentang tradisi sat sembahyang(yang ternyata membeuat kami bengong keheranan, karena kidungnya-nyanyian suci keagamaan- emnggunakan bahasa jawa yang tidak kami mengerti), serta jumlah pengempon warga asli daerah di sekitar pura yang kian menipis. Namun pura ini diberikan kepercayan untuk diempon oleh Polisi atau TNI atau pegawai Negeri Sipil beragama Hindu yang sedang bertugas atau mengabdi di tanah Yogyakarta.

Tilem selanjutnya kami bersembahyang di pura Jagatnatha di daerah Manguntapan. Disini lebih banyak lagi kami temui umat sedharma. Mulai dari pegawai yang sedang tugas ke DIY, atau yang sudah lama menetap di DIY, ada juga teman-teman mahasiswa. Di pura jagatnatha Ambarbinangun ini kami sempat ngaturang bakti, ngayah makidung dan berkeliling melihat-lihat arsitektur pura di sana.emm..sempat juga kami mengajak saudara ‘rio’ dari papua yang memanga sanagt etrtarik untuk mengetahui prosesei persembahyanagan kami…..
menyenangkan bisa mengenal pura di luar Bali…..
dan tentunya, dalam hati selalu ter’connected’ antar aku, mereka, dan Tuhanku…
karena dalam setiap doa yang tersebut,,selalu ada mereka untuk kesehatan, kebahagiaan dan keselamatan..
keselamatn dunia dan alam semesta….

Advertisements