Setelah 15 hari diadakanlah perollingan. Rolling ini dimaksudkan agar peserta BPAP bisa lebih banyak mengetahui kehidupan warga setempat di pedukuhan lainnya. Dari Homestay 1 dirolling ke homestay 3, dari Homestay 2 ke homestay 4. dan begitu pula sebaliknya. Sempat terjadi gejolak ketika kami berusaha agar rolling ditiadakan. Karena menurut hemat kami dengan adanya perubahan lagi, maka akan banyak hal yang harus diulangi kembali. Mulai dari pembongkaran barang kami dirumah sebelumnya, hingga kegiatan pengajaran seni budaya untuk anak-anak di padukuhan setempat. Diskusi alot sempat terjadi namun semuanya merupakan hal wajar ketika kami berperang opini dan saran dalam forum diskusi. Namun di luar forum, kami akan bersendagurau seperti sediakala. Akhirnya keputusan akhir menetapkan rolling akan tetap ada. Masih ada rasa mengganjal di hati kami, tapi karena ini merupakan suatu kewajiban, maka kamipun melaksanakan semuanya dengan lapang dada dan sebaik-baiknya. Dan 15 hari berikutnya saya mendapatkan tempat di homestay 2 dirumah pak guno di pedukuhan palem gede. Beliau adalah seorang hansip desa, hidup bersama istrinya dan seoranga anaknya yang belum menikah dan memiliki usaha perak mandiri di rumahnya. Ya….dan selanjutnya kami akan mendapatkan pelajaran membuat perhiasan atau aksesoris dari perak yang kami design sendiri. 15 hari kebelakang ini akan tersa lebih berat, karena selain menjalankan rutinitas kami juga harus mempersiapkan diri untuk acara perpisahan dengan warga desa. Saat rapat koordinasi, secara mendadak ada keputusan bahwa tiap provinsi akan mengeluarkan tarian akan tetapi penarinya tak berasal dari provinsi asal tarian. Kontan saja kami kelabakan, karena melatih anak-anak yang hampir 1 bulan saja belum usai kami sudah harus belajar tari baru lagi. Akan tetapi karena rasa cinta kami terhadap budaya Indonesia, hal ini malah menjadi sangat menyenangkan. Tiap kontingen dibagi masing-masing 2 orang untuk menarikan setiap tarian daerah. Dan sayapun mendapat bagian untuk menarikan ’Tari Perang’ dari Papua. Ya…sedikit mengobati kekecewaan saya karena tidak dapat BPAP ke Bumi Cendrawasih itu. Kelas perak usai jam 12.00 WIB, dan kami lanjutkan dengan belajar tarian partner hingga sore hari. Saat malam tiba kami belajar kesenian daerah Gunung Kidul yaitu ’Jathilan dan Campur sari. Kegiatan ini kami lakukan rutin hingga menjelang perpisahan beberapa minggu lagi.

Advertisements