Rutinitas yang lumayan padat tersebut kami jalani mulai dari hari senin hingga hari jumat. Akan tetapi terdapat dua hari spesial lagi dalam BPAP ini. Yaitu Sabtu sebagai hari Keluarga dan Minggu sebagai Hari rekreasi.
Setiap hari sabtu kami tak menjalankan rutinitas seperti sediakala. Akan tetapi kami diberikan waktu keluarga. Waktu keluarga ini adalah waktu untuk full 1 hari kami habiskan bersama keluarga angkat. Entah membersihkan rumah, pergi ke ladang, pergi ke pasar, atau sekedar bertukar cerita. Dan hari sabtu menjadi hari favorit saya, karena bapak dan ibu yang fasih berbahasa Indonesia selalu menceritakan mengenai kebudayaan desa setempat. Agak mistis terkadang, tapi sangat menarik untuk di dengarkan. Ketika pagi datang kami membersihkan lingkungan rumah dahulu, setelah itu ada yang mandi, mencuci dan membantu ornagtua angkat. Para anak perempuan membantu ibu di dapur dan anak lelaki pergi bersama bapak ke ladang untuk mencari pakan ternak. Hingga tengah hari sebelum kahirnya kami berkumpul bersama untuk makan siang bersama. Dari siang hingga sore bahkan terkadang malam, kami menggelar tikar di depan rumah, di bawah pohon kelapa untuk menghabiskan waktu berbincang. Tak pernah lelah bercerita tentang provinsi asal, keluarga di rumah, serta keseharian masing-masing personal. Sebagian besar waktu kami lakukan untuk berkomunikasi dengan keluarga dan bertinteraksi dengan warga setempat.
Jika hari minggu tiba, maka panitia akan memberikan kami acara-acara tambahan yang sangat menarik. Minggu pertama kami mengadakan acara Demo Masak Nusantara. Di depan Ibu lurah dan ibu-ibu PKK kami unjuk kebolehan dengan mempresentasikan masakan dari masing-masing daerah. Dari Bali kami memasak Ikan Bakar khas Jimbaran, lengkapa dengan plecing kangkung dan sambal matahnya. Mantap. Dengan sigap saya dan Astuti (duta Klungkung) bercuap-cuap mempresentasikan masakan yang kami siapakan sejak subuh bersama-sama dengan kontingen Bali lainnya. Minggu selanjutnya kami diajak berwisata bahari oleh panitia. Sejak pagi kami menuju Pantai Baron, Kukup, dan pantai lainnya di daerah Gunung kidul. Pemandangannya sungguh sangat menyejukan mata. Namun sayang, acara ini berlangsung saat matahari tepat berada di atas kepala. Dan kami kehilangan kenikmatan karena diusik panas yang menyengat. Namun semuanya terlupakan saat kami diajak makan siang di sebuah villa mewah sambil menyaksikan pemandangan laut yang sangat luar biasa. Hari Minggu berikutnya kami diajak untuk ’rafling’ panjat tebing dan menyusuri goa menuju sungai bawah tanah di daerah Gunung kidul. Pengalaman baru bagi saya karena ini pertama kalinya saya bisa terjun bebas dari ketinggian. Di hari minggu ini saya selaku Ibu lurah BPAP 2010 sekaligus ketua kontingen Bali beserta ketua kontingen dari Papua, Kalteng serta Pak Lurah BPAP 2010 (dari kalteng) diundang rapat agustusan oleh organisasi karang taruna setempat. Saya sempat berbagi mengenai perayaan 17 agustus di daerah saya sempat pula ada beberapa diskusi yang kami lakukan untuk memberi masukan mengenai perayaan 17 agustus nantinya di daerah tersebut.

Advertisements