“Ketika tiba saat perpisahan janganlah kalian berduka, sebab apa yang paling kalian kasihi darinya mungkin akan nampak lebih nyata dari kejauhan – seperti gunung yang nampak lebih agung terlihat dari padang dan dataran”.(kahlil gibran…)

Perpisahan dilaksanakan seminggu sebelum kami kembali ke provinsi masing-masing. Seminggu terakhir akan kami habiskan di pondok pemuda ambarbiangun. Sehari sebelum perpisahan, tepatnya tanggal 8 Juli kami mempersiapkan pementasan untuk keesokan harinya. Mulai dari membuat rumbai untuk tari Papua, hingga melakukan latihan bersama di homestay masing-masing. Dan ternyata ini adalah hari terakhir kami mengajar tari di dusun jambu rejo. Walaupun hanya mengajar 8 orang anak kami tetap semangat memperkenalkan budaya Bali kepada anak-anak di sana. Sebelumnya kami juga sempat melatih tari dan kebudayaan Bali di pedukuhan Tambakrejo. Walaupun kami tak melatih banyak anak-anak karena ternyata jadwal kami berbarengan dengan kegiatan wisata SD setempat kami tetap melatih dengan sangat semangat.
Tanggal 9 Juli 2010, perpisahan pun dilaksanakan. Diawali dengan sambutan-sambutan, peresmian prasasti BPAP 2010, Orgen tunggal, pertunjukan budaya masing-masing provinsi. Diawali dengan tari Bali yaitu ’malilacita’ berupa tari kreasi menari dan menyanyi yang kami ciptakan bersama-sama dalam tempo yang singkat, selanjutnya ada tari dari Kalimatan tengah yaitu tari giring-giring, dan tibalah saat saya menari tari perang dari Papua. Penonton memberi tepuk tangan yang riuh dengan keunikan kami. Mulai dari pakaian hingga gerakan khas Papua. Acara dilanjutkan dengan tari Nirboyo dari DIY dan ditutup dengan kolaborasi nyanyian daerah dari masing-masing provinsi. Sempat saya menjadi MC dalam acara perpisahan ini bersama bang Bertho rekan dari Papua. Kami terlihat sangat lucu karena mempraktikkan bahasa jawa yang kami pelajari selama satu bulan. Hanya sebagian saja yang kami sebutkan dan tentu saja mengundang gelak tawa masyarakat setempat. Seperti kata ’pinarak…’ yang artinya mari singgah, ”nderek langkung’ yang artinya permisi saya hendak lewat, dll. Perpisahan malam itu berlangsung hingga pukul 00.00 WIB.
Keesokan harinya tanggal 10 Juli tepat pukul 09.00 WIB kami berpamitan dengan orang tua angkat yang sudah kami anggap sebagai orang tua sendiri. Tangis airmata mengiringi pamitan kami. Meninggalkan Sodo tercinta, untuk kembali ke kota Jogjakarta. Pengalaman terindah yang tak akan kami lupakan seumur hidup, menjadi bagian di desa Sodo tercinta.

Advertisements