Setelah tradisi babat dalan berakhir, kami masuk ke dalam kegiatan inti, yaitu mempelajari kesenian dan ketrampilan daerah tujuan serta bertukar informasi dan budaya serta kesenian dari daerah masing-masing. Kami terbagi dalam Empat homestay di 3 (padukuhan) atau dusun yang berbeda tetapi masih dalam 1 desa yaitu desa sodo. Padukuhan yang dipakai antara lain padukuhan tambak rejo, jamburejo dan pelem gede. Lima belas hari pertama setengah dari peserta akan diberikan keterampilan menganyam bambu. Dan saya yang menjadi kordinator homestay 4 bertempat di tambak rejo menjalani hari-hari selama 9 hari untuk belajar menganyam bambu. Yang kami pelajari adalah menganyam tepas atau kipas dan membuat besek (sejenis keranjang tempat tape). Kelas menganyam dimulai dari pukul 08.00 WIB s.d Pukul 12.00 WIB dan diselingi dengan acara istirahat 30 menit untuk menikmati kudapan yang disediakan homestay. Ada kopi khas jogja, kadang teh hangat ditimpali dengan kacang rebus petikan kebun atau ketela pohon dan makanan daerah seperti tiwul dan gaplek. Sausai kelas sekitar pukul 12.00 sampai 13.00 wib kami mendapatkan waktu istirahat untuk ishoma. Tepat pukul 13.00 wib sampai dengan 15.00 wib dilanjutkan dengan belajar mandiri. Dalam waktu ini kami diberikan kesempatan untuk mengulang pelajaran tadi pagi tanpa bantuan instruktur. Kesempatan inilah yang kami gunakan untuk belajar bersama dan saling bertukar informasi menegenai kebudayaan daerah. Awalnya kami merasa canggung, tapi lama-kelamaan tak jarang gelak tawa keluar dari percakapan kami. Kamipun bersatu dalam keberagaman.
Sore harinya mulai pukul 15.00 wib s.d 17.00 wib kami menuju ke balai desa untuk melatih tari daerah. Berdasarkan hasil pengundian kontingen Bali mendapatkan bagian untuk mengajar ke padukuhan pelemgede. Jadilah saya dari homestay 4 berjalan setiap hari kurang lebih selama 35 menit. Tapi semua tak terasa berat karena sesampai di balai padukuhan kami sudah disambut secara antusias oleh 20 anak yang sangat tertarik belajar tari Bali. Pertama-tama kami mengajarkan dasar-dasar menari Bali. Mulai dari ngagem, nyeledet, ngegol dan lain-lain. Terkadang ditengah latihan kami berikan selingan berupa permaina tradisional bali berupa meong-meongan atau perkenalan mengenai lagu-lagu daerah berbahasa bali serta yel-yel penyemangat. Di padukuhan Pelem gede kami sempat kewalahan menghandle anak-anak yang jumlahnya kurang lebih 40 orang lebih dan dnegan usia yang masih sangat belia. Mulai dari yang belajar merangkak, PAUD hingga yang sudah kelas 4 SD kami ajak menyatu dalam kekeluargaan kontingen Bali. Sempat kami berdebat saat rapat koordinasi karena pada awalanya anak-anak yang mendapatkan pelatihan ini akan pentas saat malam perpisahan , namun terpaksa dibatalkaan karena masalah teknis. Dan kamipun tetap mengajar dengan penuh semanagt agar tak mengecewakan anak-anak yang telah kecewa karena batal pentas tersebut. Latihan tari ini berakhir pukul 17.00 dan kami pun kembali ke homestay masing-masing untuk ISHOMA kembali. Di homestay 4 kami tinggal bersama orang tua angkat yang menjabat sebagai kepala pedukuhan dusun Tambak rejo, biasa disebut pak dukuh oleh warga setempat. Di rumah tersebut saya tinggal bersama 2 orang saudara dari papua ( ade ecy dan bang berto), 2 saudara dari kalteng (Mona dan Heni) serta 1 orang dari Bali yaitu Gusde (duta kota Denpasar) serta 1 orang pendamping dari DIY , mas Iqbal. Di rumah itu sendiri sebelumnya tinggal Bapak dan Ibu, Lia (anak perempuan bapak dukuh yang akhirnya menjadi seperti adik kandung kami), Mbah perempuan yang sehari-harinya berjualan parutan kelapa di pasar dusun serta mbah laki-laki yang sudah tidak bekerja aktif lagi. Pada awalnya saya sempat bingung karena ternyata mbah perempuan tidak bisa berbahas Indonesia. Beliau senang sekali bercakap dengan kami tetapi mengguna an bahasa jawa. Gelagapan lah kami jika diajak mengobrol. Tapi lama-kelamaan kami malah belajar banyak tentang kosakata bahasa Jawa dari mbah.
Usai sholat maghrib kami menuju ke kantor desa yang harus ditempuh dalam waktu 30 menit dengan berjalan kaki dan tentu saja diantara temaram bintang dan gesekan daun jati dan batang bambu yang riuh tertiup angin malam. Acara malam biasanya diisi dengan rapat singkat serta pengenalan tari DIY kepada peserta BPAP. Diisi pula dengan latihan menyanyikan lagu daerah dari Papua, Bali, kalteng dan DIY. Acara berakhir sekitar pukul 22.00 WIB dan kami kembali menuju homestay masing-masing untuk beristirahat. Sesampainya di rumah biasanya saya dan saudara-saudara di homestay 4 tidak langsung tidur. Kami menyempatkan diri untuk bercerita dengan orangtua serta saudara baru kami, Lia. Menyeruput kopi hangat dan pisang goreng yang di goreng oleh ibu. Kami pun seperti keluarga baru yang tak pernah lelah bercakap hingga pagi menjelang. Tak terasa hingga pukul 02.00 dini hari kami baru beranjak ke peraduan. Malam-malam yang indah dengan obrolan yang sangat mengasyikan dan tentunya penuh dengan pengetahuan yang baru dan sangat berguna untuk kami.
Kegiatan di atas kami lalui setiap harinya. Tak sempat terlintas rasa jenuh dalam menajlaninya, karena kami selalu merasa bahagia. Memang terbersit rasa rindu pada kampung halaman, Provinsi kami masing-masing. Akan tetapi kerap kami mengusir galau itu dengan berjalan-jalan diseputaran sungai dan ladang yang tak akan kami temui di daerah kami. Lama-kelamaan kami terbiasa dengan rutinitas yang awalnya membuat kami menekuk dahi. Menimba puluhan kilometer sebelum mandi, berjalan jauh demi mencari sungai untuk mencuci baju, BAB disaksikan kambing atau sapi yang asyik mengunyah pakan nya atau berjalan melewati jalanan setapak tanpa lampu penerang jalan. Kami terbiasa dengan hal-hal itu, hingga kami mencintai dan menikmati setiap pejalanan yang terlewati. Sungguh luar biasa. Alam yang elok dan penduduk yang ramah, tentu saja membuat kami semkain betah saja.

Advertisements