Hari I; Selasa, 1 Juni 2010
Perjalanan hari ini sangat melelahkan, secara fisik dan psikologis. Perjalanan dari Bali menuju pontianak sangat panjang tapi menyenangkan tentunya. Ini kali pertama saya bertandang ke borneo. Berangkat dini hari dari eks blpp, dan sempat transit di soekarno-hatta barang 2 jam duduk meleseh di koridor smoking area (sebenarnya cukup menguras tenaga karena harus bertahan dalam kepulan asap rokok, tapi bertahan juga agar tak lepas dari rombongan), Sampai di airport supardi Pontianak sekitar jam 12 Siang. Begitu bertemu panitia penjemput, diantar bus ‘banyuke’ melajulah kami menuju kab.landak tempat Jambore Pemuda Indonesia berlangsung.
Dengan kondisi dalam bus yang sesak ditambah aroma rekan yang mabok perjalanan membuat saya berkonsentrasi pada pemandangan hutan disepanjang kiri dan kanan jalanan. Cukup memusingkan karena selama 8 jam perjalanan tak hentinya sahut menyahut suara meminta plastik atau sekedar obat gosok dan penghilang mual. Hiruk penuh hari itu, tapi saya masih berkonsentrasi mendengarkan lagu dalam hp agar tak ikut dalam kepanikan itu. Guna menghilangkan kepenatan kami sempat diajak singgah di tugu khatulistiwa pontianak.
Tugu Khatulistiwa atau Equator Monument berada di Jalan Khatulistiwa, Pontianak Utara, Propinsi Kalimantan Barat. Lokasinya berada sekitar 3 km dari pusat Kota Pontianak, ke arah kota Mempawah.
Tugu ini menjadi salah satu ikon wisata Kota Pontianak dan selalu dikunjungi masyarakat, khususnya wisatawan yang datang ke Kota Pontianak. Peristiwa penting dan menakjubkan di sekitar Tugu Khatulistiwa adalah saat terjadinya titik kulminasi matahari, yakni fenomena alam ketika Matahari tepat berada di garis khatulistiwa. Pada saat itu posisi matahari akan tepat berada diatas kepala sehingga menghilangkan semua bayangan benda-benda dipermukaan bumi. Pada peristiwa kulminasi tersebut, bayangan tugu akan “menghilang” beberapa detik saat diterpa sinar Matahari. Demikian juga dengan bayangan benda-benda lain disekitar tugu.
Peristiwa titik kulminasi Matahari itu terjadi setahun dua kali, yakni antara tanggal 21-23 Maret dan 21-23 September. Peristiwa alam ini menjadi event tahunan kota Pontianak yang menarik kedatangan wisatawan. Namun sayangnya ketika saya berkunjung kesana bukan merupakan bulan tersebut. Tapi tak apalah, sinar panas matahari Borneo sudah cukup mengobati kekecewaan saya. Ada suatu hal luar biasa yang saya temukan pada masyrakat disana. Dengan cuaca yang amat panas,ternyata warga disana banyak yang berkulit putih. Kontras seklai, tapi setelah mendapatkan info ternyata di daerah sana masih banyak pula ditemukan etnis tionghoa yang memang berkulit putih. Jadi tak heran lagi saya.
Akhirnya pukul 20.00 WIB kami sudah menginjak bumi perkemahan, ngabang-landak-kalimantan barat. Suasana sudah ramai, banyak kontingen sudah melakukan glady untuk parade pembukaan esok hari. Tapi melihat kondisi beberapa peserta rombongan kurang fit, kamipun beristirahat sekejap, tapi tak lama kemudian tenaga telah terkumpul kembali untuk menghias stand pameran masing-masing. Sekitar pukul 00.30 kami kembali menuju tenda untuk beristirahat karena esok harus bangun dini hari guna bersiap untuk parade pembukaan Jambore.


Hari II: Rabu, 2 Juni 2010
Dini hari kami bersiap untuk merias diri, sekenanya agar tak terlambat saat parade pembukaan jambore pemuda indonesia nanti. Ditengah lapanagn bola di bawah temaram lampu stadion sayapun mulai merias diri, maklum jam 3 subuh belum semua lampu bisa dinyalakan karena aliran listrik belu tersalurkan penuh. Dalam keadaan gulita sempat beberapa kali saya harus mengulang menggores alis mata. Tapi tak apa, saya merasa ini merupakan perjuangan awal untuk nantinya membawa nama Bali saat parade pembukaan. Tepat jam 6 Pagi selesai sudah saya mengenakan semua pakaian adat. Tema pakaian yang saya gunakan adalah pengantin modifikasi.
Tepat pukul 7 seharusnya kami melaksanakan kegiatan foto bersama kontingen. Tapi ternyata jadwal tak berjalan dengan lancar, karena masih banyak duta yang belum selesai berhias. Karena Saya pertama selesai jadilah saya foto model sesaat. Setiap lewat ada saja yang meminta untuk foto bersama. Tapi semuanya saya jalani dengan penuh suka cita, tak sabar acara untuk segera dimulai karena kepala sudah mulai berat dengan hiasan diatasnya. Namun sayangnya hingga pukul sepuluh acara belum juga dimulai. Kulit sudah panas, kepala sudah mulai pusing. Tapi saya tetap bersemangat bernyanyi ria bersama kontigen Bali lainnya untuk menghilangkan penat. Akhirnya tepat pukul 12an acar pembukaan dimulai juga. Di bawah terik matahari kami pun berparade menuju tribun kehormatan. Ketika giliran kontingen Bali yang melintas, kami pun disambut dengan riuh oleh tepuk tangan penonto. Seperti yang kami duga, Bali selalu mendapatkan tempat istimewa di hati banyak orang. Dan tugas kami khususnya saya sebagai Duta Wisata Pulau Dewata akan berusaha sebaik-baiknya menjaga nama Bali.
Setelah berparade acar dilanjutkan dengan upacara pembukaan. Dan diakhiri dengan kunjungan MENPORA ’Andi Malaranggeng’ ke stand daerah. Usai kunjujgna stand kamipun kembali bertugas menjaga stand untuk memasarkan produk kerajinan Bali. Dan ternyata belum penutupan acara barang yang kami dagangkan pun habis sudah. Banyak raut kecewa kami lihat, ketika pengunjung mengetahui barang kesenian Bali telah habis. Namun kami mencoba menghiburnya dengan menceritaka tentang keindahan alam Pulau Bali tercinta.
Malam harinya acar penyambutan kontingen pun dimulai. Dihibur oleh artis ibu kota ’kucing garong’. Malam itu saya tidak bergabung dengan kontingen lainnya karena akan mempersiapkan diri untuk bepergian esok harinya, bertugas sebagai Duta Wisata Pemuda, Provinsi Bali.


Hari III: 03 Juni 2010, Singkawang-Kalimantan Barat
(part I) : Catatan perjalanan duta wisata pemuda (Jambore Pemuda Indonesia th 2010)

Usai mandi bergegaslah saya dan rekan Edi ’Buleleng’ berkumpul di sekre panitia untuk berangkat bersama menuju kota singkawang. Belum pernah saya mendengar sebelumnya tentang kota ini, tapi setelah saya searching di internet, kota ini akan sangat semarak saat imlek. Dari sini bisa juga melihat laut cina selatan, bahkan dikatakan singkawang adalah singapura jaman dulu. Emm makin penasaranlah saya dibuatnya.

Jam 7 pagi berangkat dari landak menuju singkawang. Perjalanan diperkirakan selama kurang lebih 4 jam. Ya, dan ternyata memang lebih dari 4 jam, tapi saya cukup puas menikmati perjalanan. Melihat sekelumit kehidupan tionghoa di bumi intan ini. Pertama kami singgah di pantai ancol pontianak, pantai dengan beberapa pulau kecil di tengahnya. Mirip nusa penida jika di bali, tapi jumlah pulau di pantai ini lebih banyak dan menyebar.
Perjalanan dilanjutkan menuju pantai pasir panjang untuk mengikuti acara penyambutan oleh walikota singkawang. Kami disuguhi dengan tarian khas dayak serta belia cantik bermata sipit yg mengenakan baju Cinanya. Sore hari kami yg tergabung dalam duta wisata jambore pemuda indonesia mengikuti kegiatan tanam pohon diantar oleh perkumpulan motor tiger Kal-Bar. Makin Sore, kami diajak ke tempat wisata ‘rindu alam’, kawasan wisata hutan perbukitan dengan panorama laut cina selatan yang membentang disekelilingnya. Sungguh cantik sekali, Apalagi ketika sunset mulai muncul perlahan. Tangan dan mata tak pernah berhenti untuk mengabadikan momen berharga ini .Menyaksikan tenggelamnya sang mentari dari atas bukit yang hijau “amazing”. Sempat aku berpikir mungkin seperti inilah keindahan pantai di pulau dewata sebelum dijamuri banyak wisatawan.Asri, tenang dan sangat menarik. Kiranya keindahan sunset singkawang dari atas bukit dan sepanjang pantai panjang bisa lebih di optimalkan lagi. Biarlah berbagi keindahan dengan banyak mata, tapi tak membuka peluang untuk mengucurkan air mata pertiwi dg eksploitasi yang berlebihan.
Malam harinya kami disuguhi acara saprahan, ini adalah acara yg dilakukan saat ada upacara pernikahan. Bentuknya unik, karena memiliki aturan dalam makan. 5 orang duduk bersila mengelilingi makanan yang akan dibawakan nantinya. Prosesinya mirip dengan ‘megibung’ di bali. Beberapa makanan dihidangkan untuk bersama, tapi bedanya tiap orang memegang piring masing-masing tidak dijadikan satu. Dengan makan ala saprahan ini dipercaya agar kita bisa memupuk rasa kebersamaan dan kekeluargaan. Lauk yang dihidangkan bermacam-macam lengkap dengan buah jeruk pontianak yang manis. Kami lahap semua menu yg disediakan. Hingga akhirnya saya terhenti dg muka merah karena tersedak. Saya lirik air dalam caratan besi, tapi sayang sekali ternyata itu air untuk membasuh tangan. Jadilah saya hanya menenggak susu jahe yang disediakan, pedas rasanya. Tapi lama-kelamaan saya merasakan hangat di tenggorokan. Diceritakan pula dengan pantun melayu, bahwa setiap peserta harus menambah nasi minimal dalam 1x putaran dan nasi sebakul pun harus dihabiskan. Namun karena tiap peserta menggunakan pakaian adat dan perut kami juga sudah penuh oleh beberapa hidangan yang kami lahap, jadilah nasi dalam bakul tak kunjung habis.
Tepat pukul 8, hiburanpun tiba. tourism band ‘band asuhan diParda singkawang’ siap menghibur kami. Tapi ditengah acara, malah kami para penikmat yang menjadi pengisi acara. Tembang yang apik milik afgan dilantunkanlah oleh kawan dari Brunai darrusalam. lagu demi lagu terlewatkan, duta wisata jatim dengan goyang khasnya menyanyikan lagu kucing garong ditemani beberapa kawan lainnya. Sungguh benar-benar hingar malam itu. Tepat tengah malam, kami mengadakan pesta barbeque. Karena rahang saya belum bisa makan jagung bakar (akibat kecelakaan) sayapun memutuskan untuk bertukar pikiran dengan teman dari Papua barat. Tepat pukul 02.00, setelah lelah berbincang kamipun mohon diri untuk beristirahat lebih awal, karena esok akan ada perjalanan kembali menuju kota Singkawang.


Hari IV: 04 Juni 2010, Singkawang-Kalimantan Barat
(part II) : Catatan perjalanan duta wisata pemuda (Jambore Pemuda Indonesia th 2010)

Bangun pagi menghirup udara segar khas pantai,mata termanjakan oleh sunset yang datang malu-malu. Hari ini masih dalam rangkaian duta wisata pemuda JPI, memasuki hari kedua dan akan segera menuju ke kota singkawang. Sebelumnya kami diajak berwisata dulu ke ‘sinar terang’ yang merupakan pabrik pembuatan keramik yang memiliki tungku naga satu-satunya di dunia. Ditempat ini saya melihat cara pembuatan keramik, pengecatan, dan pembakaran. Tapi sayang belum sempat praktik karena terburu oleh waktu untuk segera menuju kota singkawang. 1 hal yang membuat saya tertarik berkunjung ke ‘kota amoy’ ini adalah patung naga kontroversial di tengah kota. Menurut media cetak setempat ‘pontianak post’ yang sempat saya baca di bus kala itu, disebutkan bahwa Pembangunan patung ini menjadi pro kontra, karena dibangun ditengah kota dan fungsi pembangunannya masih menjadi tanda tanya. Begitu pula saat saya searching di internet (Tribun Borneo) Hasan Karman; Walikota Singkawang menceritakan secara kronologis asal mula pembangunan patung naga tersebut. Pembangunan patung naga itu bermula saat kampanye Pilkada Walikota Singkawang beberapa waktu yang lalu. Pada saat kampanye, tugu yang saat ini dibangunan patung naga rusak lantaran ditabrak. Hasan Karman mendapatkan komplein masyarakat. Kecelakaanpun kerap kali terjadi. Kemudian karena banyaknya tuntutan masyarakat, beberapa waktu yang lalu, salah satu pengusaha asal kota Singkawang bersedia untuk melakukan pembangunan tugu yang baru. Beliau mengatakan tugu dengan patung naga itu sejalan dengan visi misi Kota Singkawang sebagai Kota Pariwisata. Lebih jauh, Hasan mengatakan, untuk membangunan pariwisata Kota Singkawang, pemerintah tidak hanya membangun patung naga. Akan tetapi juga berencana untuk membangun satu tugu yang melambangkan keberagaman suku di Kota Singkawang. Hasan juga berencakan akan membanganun pintu gerbang di tiga pintu masuk Kota Singkawang dengan corak tiga etnis terbesar di Kota Singkawang, Tionghoa, Dayak, dan Melayu. Wah saya semakin tertarik untuk segera berkunjung ke kota Muti Etnis ini.

Sekitar 40 menit sampailah rombongan kami di pasar kota tionghoa, masih ditemani terik panas matahari yang makin garang. Di pasar saya hanya berkeliling dengan rekan ‘randy’ dari Kal-Teng. Bersama rombongan mengunjungi klenteng tertua (tempat suci kaum tionghoa) di pusat kota. Bangunan itu berwarna merah, dilengkapi dengan hio (dupa), serta lilin dengan ukuran super jumbo. Halamannya dihias dengan pagoda dan kolam cantik serta pohon cemara dan bunga-bungaan. Singkawang akan ramai saat perayaan cap go meh, banyak kaum tiong hoa yang berdatangan dari luar kalimantan, bahkan luar indonesia. Mereka bisa memesan penginapan jauh hari sebelum kedatangan. Karena jumlah penginapan tidak mencukupi, rumah wargapun bisa jadi homestay dadakan.
Mayoritas warga di kota ini adalah tiong hoa. Tapi warga Islam dan agama lain masih bisa hidup dengan aman dan nyaman bersama. Tak jauh dari kelenteng tersebut, terdapat masjid. Disanalah rekan saya yang beragama islam melakukan sholat jumat. Sembari menunggu, saya berniat membeli pernak-pernik khas daerah setempat. Masuklah saya ke toko penuh dengan bunga-bunga plastik. Pikir saya, toko ini pasti untuk acara yang berbahagia, dan benar saya memasuki toko pernikahan. Di kota ini, toko-tokonya khusus menjual barang untuk 1 acara spesial, tidak boleh menjual barang campuran dari jenis acara yang berbeda. misalnya ada toko khusus menjual perlengkapan upacara kematian dan acara pernikahan. Tak menemukan apapun (sebenarnya karena harga di sana lumayan mahal), saya pun kembali ke bus untuk segera melanjutkna perjalanan ke Bukit Bougenville.
Bukit bougenville letaknya tidak begitu jauh. Sekitar 30 menit dari kota singkawang. Di sini kami akan makan siang sembari menunggu acara perpisahan. Bercerita tentang bukit bougenville, sudah pastinya dipenuhi dengan aneka macam bunga bougenville, berwarna-warni indah sekali. Selain bunga bougenville yang bertebaran dimana-mana Di tempat ini terdapat beberapa sudut dengan nama tanamannya masing-masing. Ada green house dengan tanaman paku-pakuan, kawasan super sejuk-singkawang orchid-danau bougenville dengan beraneka macam anggreknya, wisata flora yang dilengkapi dengan beraneka ragam bunga-bunga lainnya.cantik sekali. Setelah acara berkeliling diseputaran bukit bougenville, kamipun segera melangsungkan acara perpisahan. Acaranya singkat saja tapi berkesan, ada Sambutan dari pihak tuan rumah, kesan pesan perwakilan duta wisata oleh duta sumatera barat, bernyanyi bersama, dan berfotoria tentunya. Usainya berangkatlah kami kembali ke kabupaten Landak. Bergabung kembali dengan kontingen masing-masing, menikmati tenda dengan lumpurnya yang menggeliat.
5 jam perjalanan tak terasa, karena kami bernyanyi bersama. Sempat saya melatih mereka tari cak hingga suasana bus berubah jadi gaduh. Senang, bersatu dalam tawa, haru, pantat sakit, dan perut mual. Seru…..pengalaman 2 hari bersama para duta wisata pemuda tak akan terlupakan…mudah-mudahan bisa berjumpa lagi di lain kesempatan.

Hari ke V: 05 Juni 2010
Hari ini adalah hari perpisahan untuk semua kontingen. Acara penutupan pun berlangsung dengan sangat meriah. Setelah disibukkan dengan acara kemas barang-barang. Kami mengunjungi teman-teman dari provinsi lain yang lebih awal berangkat menuju tempat BPAP. Kurang paham dengan sistem keberangkatan, kami masih bingung kenapa peserta JPI tidak bisa mengikuti acar perpisahan dengan alasan jadwal penerbangan. Idealnya kmai para pemuda dikumpulkan dulu untuk mengikuti acara perpisahan bersama. Tapi ya sudah, jika memang sudah di atur sedemiakan rupa untuk yang terbaik. Kami siap melaksanakan dengan sebaik-baiknya pula.
Suasana haru mulai terasa saat api unggun dinyalakan. Seluruh Kontingen pemuda Indonesia membentuk lingkaran besar dan saling berjabat tangan. Saat itulah kami merasakan ikatan yang kuat sebagai garda terdepan pembela bangsa. Rasa nasionalisme kembali bergelora, untuk senantiasa menjaga keutuhan NKRI. Dengan genggaman tangan yang makin erat, kami menyanyikan lagu bangun pemudi pemuda, syukur dan Indonesia pusaka dengan khidmat.
Acara perpisahan ditutup dengan bernyanyi bersama. Dan kontingen Bali selalu yang terdepan. Bali lah yang menjadi pelopor peserta menyumbangkan suara ke atas panggung. Dan kami pun larut dalam suasana kebersamaan hingga pagi tiba. Hari ini kami memutuskan untuk tidak tidur, tapi kami akan melakukan refleksi kontingen Bali cinta damai sebelum akhirnya kami dipisahkan untuk berbakti di provinsi tujuan masing-masing.

Hari VI: 06 Juni 2010
Pagi-pagi buta suasana camp telah dipenuhi air mata. Kontingen tuuan BPAP ke Provinsi Bali berangkat paling awal. Ini berarti, rombongan PPMI Bali yang menemani kami pun akan pulang terlebih dahulu. Isak tangis perpisahan belum terhapus juga, ketika beberapa jam kemudian Rombongan menuju Papua benrangkat. Menjelang siang hari, Rombongan menuju Kalimantan tengah pun berangkat. Dan ternyata rombongan BPAP Tujuan DIY yang paling akhir. Akan tetapi kami akan berangkat menuju pontianak dulu dan menginap di asrama haji, untuk selanjutnya menuju ke DIY keesokan harinya.


Hari VII: 07 Juni 2010
Selama di kota pontianak kami menetap di Asrama haji, Pontianak. Di sini saya banayk mendapatkan pengetahuan mengenai toleransi antar umata beragama. Kontingen Papua dan Kalteng yang mayoritas Kristen dan Kontingen Bali yang 100% Hindu menetap di asrama haji. Namun selama di tempat ini kami tidak menemukan kendala apapun, karena toleransi dan tenggang rasa yang kami terapkan. Sebelum menuju DIY, kami diajak mengunjungi ’Rumah bentang’ yaitu rumah asli suku dayak yang ada di cagar budaya pontianak. Bertambahlah khazanah pengetahuan kami mengenai budaya indonesia. Mungkin saat ini kami sedang merealisasikan slogan Kementrian Kebudaayaan dan Pariwisata ”Kenali negerimu Cintai Negerimu”.
Sekitar pukul 14.45 pesawat kamipun take off menuju DIY. Selamat tinggal Kalimantan Barat, Kami belajar banyak darimu.

Advertisements