Tags

, , ,

patung naga di tengah kota singkawang- kontroversial


3-4 Juni 2010, Singkawang-Kalimantan Barat

Bangun pagi menghirup udara segar khas pantai,mata termanjakan oleh sunset yang datang malu-malu. Kantuk semalam masih terasa, itulah penyebab saya agak malas untuk mengantri makanan di stand panitia. Hari ini masih dalam rangkaian duta wisata pemuda JPI, memasuki hari kedua dan akan segera menuju ke kota singkawang. Sebelumnya kami diajak berwisata dulu ke ‘sinar terang’ yang merupakan pabrik pembuatan keramik yang memiliki tungku naga satu-satunya di dunia. Ditempat ini saya melihat cara pembuatan keramik, pengecatan, dan pembakaran. Tapi sayang belum sempat praktik karena terburu oleh waktu untuk segera menuju kota singkawang. 1 hal yang membuat saya tertarik berkunjung ke ‘kota amoy’ ini adalah patung naga kontroversial di tengah kota. Menurut media cetak setempat ‘pontianak post’ yang sempat saya baca di bus kala itu, disebutkan bahwa Pembangunan patung ini menjadi pro kontra, karena dibangun ditengah kota dan fungsi pembangunannya masih menjadi tanda tanya.
Sekitar 40 menit sampailah rombongan kami di pasar kota tionghoa, masih ditemani terik panas matahari yang makin garang.

Di pasar saya hanya berkeliling dengan rekan ‘randy’ dari kal-teng. Sempat pula kami minum 3 gelas es teh diwarung tepi jalan. ternyata dahaga ini malah mengantar kami pada ketersesatan. singkat kata, tersesatlah kami berdua dalam kota.

Sebelumnya, kami bersama rombongan mengunjungi klenteng tertua (tempat suci kaum tionghoa) di pusat kota. Bangunan itu berwarna merah, dilengkapi dengan hio (dupa), serta lilin dengan ukuran super jumbo. Halamannya dihias dengan pagoda dan kolam cantik serta pohon cemara dan bunga-bungaan. tak membuang kesempatan, sayapun melampiaskan hoby saya. Narsis. Berfotoria.

salah satu sisi- tempat sembahyang warga tionghoa di singkawang

Singkawang akan ramai saat perayaan cap go meh, banyak kaum tiong hoa yang berdatangan dari luar kalimantan, bahkan luar indonesia. Mereka bisa memesan penginapan jauh hari sebelum kedatangan. Karena jumlah penginapan tidak mencukupi, rumah wargapun bisa jadi homestay dadakan.

Back to amoy. Mayoritas warga di kota ini adalah tiong hoa. Tapi warga islam dan agama lain masih bisa hidup dengan aman dan nyaman bersama. Tak jauh dari kelenteng tersebut, terdapat masjid. Disanalah rekan saya yang beragama islam melakukan sholat jumat. Sembari menunggu, saya berniat membeli pernak-pernik khas daerah setempat. Namun dahaga ternyata sudah memuncak. Kembali saya katakan, Inilah awal ketersesatan saya bersama rekan saya ‘randy’.

Setelah minum, Pertama kami memasuki toko pernak-pernik. Tapi ternyata barang-barang yang dijual disana sama saja dengan yang ada di toko kebanyakan di daerah saya. begitu pula toko kedua, ketiga, keempat hingga toko ketujuh. Sampai akhirnya mata saya tertuju pada toko yang menggantung sepeda, boneka, lemari, mobil-mobilan yang tampak lucu bagi saya. Tak ragu, masuklah saya ke toko itu.
Sepasang boneka saya ambil, lemari kecil, serta peralatan masak segera saya bawa ke kasir. Hendaknya saya akan membelikan oleh-oleh mainan untuk keponakan saya. sampai di kasir terkejutlah saya, karena penjual malah tidak memberikan barangnya dibeli. Sempat pula saya mendapat omelan, tapi tak saya mengerti karena pedagang mempergunakan bahasa China. ough,,ternyata saya memasuki toko yang khusus menjual perlengkapan upacara kematian. Betapa malunya saya karena harus mengembalikan kembali barang-barang tersebut ke tempat sebelumnya (maklum, karena di toko itu hanya ada seorang nenek. Pegawainya masih makan siang). Setelah itu, cepat-cepat saya meninggalkan toko itu.
Melanjutkan perjalanan ‘menikmati ketersesatan’.
Selanjutnya masuklah saya ke toko penuh dengan bunga-bunga plastik. Pikir saya, toko ini pasti untuk acara yang berbahagia, dan benar saya memasuki toko pernikahan. Di kota ini, toko-tokonya khusus menjual barang untuk 1 acara spesial, tidak boleh menjual barang campuran dari jenis acara yang berbeda. misalnya ada toko khusus menjual perlengkapan upacara kematian dan acara pernikahan. saya membeli sehelai handuk (katanya impor malaysia) yang bertuliskan ‘kebahagiaan ganda, dan satu hati selamanya’ tentu saja handuk ini akan saya paketkan untuk kekasih dirumah. Setelah membungkus apik dengan pita pembawa keberuntungan saya melihat-lihat patung yang dijual disana. Ada ikan koi, naga, singa, dll.

Ketersesatan saya berakhir setelah empat kali mengelilingi toko keramik yang sama. Bahagia, terlihat bus kami parkir dengan gagah. Sayapun segera berlari menuju kesana, lalu terlelap seiring perjalanan kami menuju ‘bukit bougenville’.

Bukit bougenville letaknya tidak begitu jauh. Sekitar 30 menit dari kota singkawang. Di sini kami akan makan siang sembari menunggu acara perpisahan. Bercerita tentang bukit bougenville, sudah pastinya dipenuhi dengan aneka macam bunga bougenville, berwarna-warni indah sekali. Selain bunga bougenville yang bertebaran dimana-mana Di tempat ini terdapat beberapa sudut dengan nama tanamannya masing-masing. Ada green house dengan tanaman paku-pakuan, kawasan super sejuk-singkawang orchid-danau bougenville dengan beraneka macam anggreknya, wisata flora yang dilengkapi dengan beraneka ragam bunga-bunga lainnya.cantik sekali. Setelah acara berkeliling diseputaran bukit bougenville, kamipun segera melangsungkan acara perpisahan. Acaranya singkat saja tapi berkesan, ada Sambutan dari pihak tuan rumah, kesan pesan perwakilan duta wisata oleh duta sumatera barat, bernyanyi bersama, dan berfotoria tentunya. Usainya berangkatlah kami kembali ke kabupaten Landak. Bergabung kembali dengan kontingen masing-masing, menikmati tenda dengan lumpurnya yang menggeliat.

bersama 'pak kumis 'penjaga bukit bougenville

5 jam perjalanan tak terasa, karena kami bernyanyi bersama. Sempat saya melatih mereka tari cak hingga suasana bus berubah jadi gaduh. Senang, bersatu dalam tawa, haru, pantat sakit, dan perut mual.
Seru…..pengalaman 2 hari bersama para duta wisata pemuda tak akan terlupakan…mudah-mudahan bisa berjumpa lagi di lain kesempatan.
Terakhir,,,,angkat tinggi tangan kananmu lalu teriakkaaan……..
“PASTI KE SINGKAWANG….WANG…WANG…..”. (doi_dlm_jpi/bpap_10)

Advertisements