“Bebaskan anak dari segala macam tindak kekerasan, eksploitasi dan diskriminasi.!!”

Mungkin slogan di atas hanya tinggal kalimat tanpa makna jika tanpa sosialisasi dan realisasi. Maraknya kasus Eksploitasi seksual di Pulau Dewata ternyata mampu mengalihkan seluruh mata Indonesia menatap pedih anak-anak di Pulau Surga ini. Pemerintah yang kurang tegas serta Lambannya penanganan menyebabkan anak-anak dan para orang tua selalu dibayangi ketakutan. Bukti nyata bahwa Undang-Undang Perlindungan Anak No.23 Tahun 2002 belum konsekuen dilaksanakan oleh semua lapisan. Ingin bermain saat jam istirahat di sekolah saja, anak-anak mesti ketakutan, guru was-was, orang tuapun cemas. Boleh dikatakan kalau ternyata pulau yang makin panas ini memiliki kehidupan yang makin cadas dan beringas.

Belakangan ini, Bali, utamanya anak-anak Bali menjadi sorotan di berbagai media massa. Salah satunya pemberitaan mengenai kasus pemerkosaan berantai. Tapi yang ingin saya bagi kali ini adalah salah duanya (mudah-mudahan bukan kesalahan berantai). Bali kembali menjadi sorotan…

Si Cerdas di Pulau Cadas. Saya tertarik dengan perumpaan itu. Setelah memegang kening membaca perkembangan kasus pemerkosaan anak berantai, akhirnya bisa juga saya tersenyum senang. Anak Bali kembali membuat semua orang terkesima dengan daya pikir (yang saya pikir) sangat luar biasa.

1). MENGINGAT DERET ANGKA ough…menyeramkan untuk seorang Kadek Ridoi Rahayu, Tapi beda cerita dengan DOMINIC BRIAN, anak 12 tahun asal Kuta, Bali yang mencatatkan namanya dalam buku rekor dunia Guinness World Records setelah berhasil menunjukkan kemampuannya mengingat 76 deret angka hanya dalam 60 detik. (waoo,,bahkan saya saja lupa berapa jumlah uang dalam dompet saat ini; atau mungkin memang tak ada uangnya (^_<).
Brian juga berhasil memecahkan rekor pada Museum Rekor Indonesia (Muri), yaitu mengingat 1 dek kartu bridge (52 kartu) selama 100 detik dan mengingat 100 digit angka secara acak dalam waktu 12 menit.
Bagaimana Mata Dunia tak tertuju ke Bali?

2).JEPRAT JEPRET. Sampai saat ini saya sendiri sejujurnya masih penasaran untuk memahami dunia photography. Mencoba menggali potensi diri (entah ada atau tidak), untuk menajamkan mata kamera ku,,brufft,,,tapi ternyata saya masih harus belajar lebih banyak lagi… jadi terinspirasi oleh NI LUH MERTAYANI, anak berusia 15 tahun ini memenangkan lomba foto internasional yang digelar Yayasan Museum Anna Frank di Belanda, beberapa waktu lalu. Foto dengan objek ayam kampung yang tidur di ketela pohon di halaman gubuknya dan diberi judul, ”Ayam Ini Gantungan Hidupku”, menyebabkan anak kelas III SMPN 2 Abang, Karangasem ini diundang ke Belanda untuk menerima hadiahnya setelah berhasil menyisihkan karya foto lainnya dari peserta 200 negara.Dia diundang ke Belanda selama sepuluh hari yakni sejak 28 April sampai 8 Mei. Selain mendapatkan hadiah keliling Negeri Kincir Angin, dia juga mendapatkan beasiswa, hadiah kamera, dan laptop serta biaya hidup bersama keluarganya. Mupeeengg dah saya,,BELANDA,,jejak sepatuku pasti ada disana (diatas air) terus berusaha untuk mengasah bakat yang tak kunjung muncul juaa…

3). UJIAN NASIONAL!!….pernah tak bisa tidur karenanya….perut suka mules, kerongkongan jadi kering, keringat bercucuran ga karuan….maklum ga lulus UN tentu saja mimpi buruk bagi saya, Kelulusan dan nilai menjadi pertaruhan kesungguhan saya dalam menuntut ilmu… (beban jadi berlipat ganda karena saya anak seorang guru; walaupun saat ini saya baru menyadari kalo sebenarnya hal tsb tak berkaitan). Gelisah karena saya dan teman-teman SMP tahun 2005 merupakan angkatan pertama istilah kerennya : kelinci percobaan pengerjaan UN menggunakan sistem LJK (lembar Jawaban Komputer). Takut lembar jawaban robek lah, basah, terlipat, atau takut salah ngulerin jawaban (intinya takut jawabanya salah). Tapi dengan semangat membara dan belajar dengan cukup keras,,saya lulus juga,,nilai 29.01 untuk 3 mata pelajaran…(without hp nor sms; karena kebetulan di sekolah saya melarang siswa untuk menggunakan HP atau atau komunikasi lainnya semasa menuntut ilmu… Jadi sangat puas dengan nilai demikian…(walaupun sebenarnya banyak yang lebih besar, tapi rasa syukur saya tak berkurang secuilpun)…hahaha..kok malah curhat,,,Nah,,berita di media massa yang membuat saya terkesima dan berkeringat dingin adalah beberapa siswa yang masih tergolong anak di pulau dewata ini, hampir memiliki nilai sempurna dalam ujian yanga maha menyeramkan sekelas UN. inilah mereka :
==> Ni Made Yuli Lestari dari SMPN 1 Gianyar dan Ni Kadek Indra Puspayanti dari SMPN 1 Abiansemal, Kabupaten Badung, berhasil meraih nilai Ujian Nasional (UN) SMP/MTs tertinggi tingkat nasional dengan nilai 39,80, yang berarti hanya kurang 0,2 poin dari prestasi nilai sempurna 40.
==> Nyoman Ledy Trisna Paramartha dari SMPN 1 Denpasar, Kadek Ria Citra Dewi dari SMPN 1 Denpasar dan Made Ayu Mutiara Dewi dari SMPN 1 Kuta Utara dengan nilai 39,60 sebagai nilai tertinggi kedua tingkat nasional.
==> Ranking ketiga tingkat nasional adalah I Gusti Agung Indah Pradnyani RS dari SMPN 1 Denpasar dengan nilai 39,55.

sekedar informasi, Ujian Nasional Provinsi Bali untuk jenjang SMP/MTs dan SMPLB 2010 diikuti 55.181 orang dan 29 orang SMPLB. Dari jumlah tersebut 54.407 orang di antaranya atau 98,6 persen berhasil lulus dan 774 orang atau 1,4 persen tidak lulus. Sementara untuk jenjang SMPLB seluruhnya dinyatakan lulus. Hal ini sudah cukup membuktikan bahwa ternyat di pulau CADAS ini ternyata memang banyak anak-anak yang cerdas.

Mungkin masih banyak anak-anak berprestasi yang belum dapt saya bagi ceritanya pada kesempatan ini. Tapi saya tidak akan pernah berhenti berbagi cerita tentang betapa hebatnya sebenarnya generasi muda Bali kita. (yah,,,asalkan yang pintar tak selalu dibuangawa ke luar dan di juang oleh yang lain). SDM kita ternyata juga berkualitas….. mudah-mudahan makin banyak orang sukses dari Bali yang notebene akan bertitle’kan The island of Science ini…dan mudah-mudahan tak hanya sebatas gelar tanpa tanggung jawab untuk membuat Bali menjadi benar-benar bernuansa pendidikan….

So,,,Bangga jadi Anak Bali. Bangga Jadi Anak Indonesia……..BRAVOOO…

Advertisements