3 April 2010
Kamar Pengap, 00.15 Wita

Dada…mungkin hal yang sensitif untuk dikuliti. Ukuran dada, mungkin lebih sensitif lagi jika dijadikan topik. Tapi sebongkah rasa dalam dada yang mulai sensitif mungkin tak akan berasa apa jika semua sarafku telah kelu karena api ini. Ukuran dada setiap orang mungkin berbeda. Dan cerita ini tentu saja bukan cerita tentang ukuran-ukuran tersebut. Bukan juga membahas tentang ukuranku. Tapi hanya guratan gulana, saat ketakutanku akan penyempitan dada ini melanda.
Ketika dengan ponggahnya aku bercermin pada masa lalumu, di detik itu pula ternyata aku menyadari kalau sebenarnya aku tak sekuat yang ku pikirkan. Andai kuhapus semua dan tak ku cap diriku sebagai seorang yang egois. Tentu saja ku akan dengar raunganmu untuk kilasmu terdahulu. Bukankah kita akan berlapang dada jika seandainya kita bisa menerima masa lalu seseorang, dan menatap ke depan untuk masa yang akan datang. Dan diukurlah seberapa lapang sebenarnya dadaku untuk berlabuh semua masa lalumu…..
Saat ku simpan rapih semua memori di ceruk terdasar, dengan angkuhnya aku menyelam di setiap jengkal ceritamu terdahulu. Sekarang yang ada hanya ratapan, penyesalan bahkan kecurigaan. Saat dada tak bisa berlapang lagi untuk menanggung sesak yang dilihat mata, mulailah otak berputar mencari keroknya. Saat itulah dada yang ku pasang selapang mungkin, berubah menjadi butiran tanah lapang bak terinjak pemain bola.
Kadang ku berusaha agar senyum itu masih ada saat ku bongkar semua gambar masa lalumu. Saat aku yakin akulah masa depanmu. Saat aku merasa tegar, dan lebih kuat dari sekedar batu karang. Tapi sayang, gelombang yang menghantam ternyata tak terperi dan menggilas semua jejak yang ku bangun. Sama kerasnya bak hantaman lirik lagu yang kau dendangkan bersamanya. Sama perihnya saat ku tahu terjadi perulangan lagi di masa mu yang sekarang. Dengan cerita, skenario, dan mungkin akting yang hampir sama, namun dengan tokoh baru yang kau paksa untuk tampil beda. Aku benci jika harus melihat semua cerita yang kau lontarkan, miris saat mendengar semua sketsa yang telah kau tuliskan, dan tentu saja kelamaan bikin aku muak pula. Biar aku bunuh saja semua tokoh di kisahmu terdahulu, biar yang ada hanya ceritaku kini. Tapi tak boleh, karena rupanya aku juga suka cerita ini.
Saatnya ku mulai mengukur seberapa lapang sebenarnya guratan kesabaran yang kuberikan untuk memori lawasmu. Seberapa kokoh karang yang ku pondasikan di atas relungmu. Dan seberapa besar elegi yang mungkin akan terpancar setelahnya..piuhh…mungkin benar hidup hanya rekayasa, sandiwara, atau bahkan boomerang dari kehidupan sebelumnya. Tinggal menunggu semuanya habis, dan terbaca sudah langkah nyata kita nantinya. Tetap menunggu apakah aku akan tegar memapahmu, bersandar padamu, atau bahkan terpuruk sendiri dalam ceruk ku….kita lihat saja nanti.

*Cerita saat kenakalanku menjelajah di otakmu, dan dirimu mengarungi lautan gelap itu

Advertisements